KUDUS, Kaifanews — Upaya pelestarian budaya lokal terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Kudus melalui gelaran Festival Tari Lajur Caping Kalo 2026. Ajang ini tak sekadar lomba seni, tetapi juga diproyeksikan menuju pemecahan rekor MURI dalam rangka Hari Jadi ke-477 Kota Kudus.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Teguh Riyanto, mengungkapkan antusiasme peserta tahun ini terbilang tinggi. Tercatat, total 93 tim ambil bagian dalam festival tersebut, terdiri dari berbagai kategori.
“Untuk kategori SMP ada 21 tim, SMA 23 tim, dan kategori umum 49 tim. Total keseluruhan mencapai 93 tim,” ujarnya saat dihubungi pada Selasa 21 April 2026.
Festival ini melibatkan pelajar hingga masyarakat umum dari berbagai instansi, mulai dari sekolah, perguruan tinggi, organisasi perangkat daerah, hingga komunitas. Setiap tim beranggotakan lima penari dengan komposisi yang telah ditentukan panitia.
Menurut Teguh, kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk menghidupkan kembali warisan budaya khas Kudus, yakni Caping Kalo. Selain itu, festival ini juga bertujuan mendorong kreativitas pelaku seni sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.
“Festival ini bukan hanya kompetisi, tapi bagian dari upaya merawat budaya dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan daerah,” katanya.
Tari Lajur Caping Kalo sendiri merupakan karya seni yang menggambarkan proses pembuatan caping khas Kudus, mulai dari pemilihan bambu hingga menjadi produk utuh yang sarat makna. Filosofi di dalamnya mencerminkan ketekunan, kebersamaan, hingga nilai spiritual masyarakat.
Rangkaian festival dimulai dari tahap pendaftaran yang telah dibuka sejak Februari hingga Maret 2026. Selanjutnya, peserta wajib mengirimkan video penampilan untuk tahap seleksi yang dijadwalkan pada akhir April hingga awal Mei.
Hasil seleksi akan diumumkan pada 11 Mei 2026 melalui kanal resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus. Nantinya, empat tim terbaik dari masing-masing kategori akan melaju ke babak final.
Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 24 Mei 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Selain menjadi ajang kompetisi, momen tersebut juga akan menjadi bagian dari rangkaian menuju penampilan massal Tari Lajur Caping Kalo yang ditargetkan memecahkan rekor MURI pada September mendatang.
Lebih lanjut, Teguh menegaskan bahwa festival ini menjadi langkah konkret dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga ikut melestarikan budaya daerah melalui karya dan kreativitas mereka,” tandasnya. (*)








