KUDUS, Kaifanews — Upaya warga RW 3 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus dalam mengelola sampah rumah tangga membuahkan hasil. Berbagai limbah organik yang biasanya dibuang kini dimanfaatkan menjadi pakan ternak entok milik warga setempat.
Program tersebut bahkan berhasil masuk nominasi penilaian lingkungan yang digelar Djarum Foundation karena dinilai mampu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu pengelola peternakan entok di RW 3 Jati Kulon, Ony, mengatakan pengelolaan sampah dilakukan dengan memisahkan limbah organik dan anorganik sejak awal.
Untuk sampah anorganik seperti botol plastik dan kemasan bekas, warga mengelolanya melalui bank sampah. Sedangkan limbah organik berupa sisa makanan dan sampah dapur dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan ternak.
“Sampah dapur dan sisa makanan warga dikumpulkan lalu dimanfaatkan untuk pakan entok. Jadi tidak langsung dibuang begitu saja,” ujarnya pada Jumat 15 Mei 2026.
Selain dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sebagian sampah organik juga diolah menjadi eco enzyme. Program tersebut kemudian dijadikan materi penilaian dalam lomba pengelolaan lingkungan yang diikuti warga.
Dalam penilaian itu, warga RW 3 diminta membuat video mengenai pengelolaan sampah di lingkungan mereka. Video tersebut menampilkan tiga program utama yakni bank sampah, pengolahan eco enzyme, serta pemanfaatan limbah organik untuk pakan entok.

Menurut Ony, saat ini program tersebut telah masuk tahap nominasi kedua. Beberapa waktu lalu, tim penilai dari Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus bersama pihak terkait juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi.
“Informasinya nanti puncak acaranya tanggal 8 Juni di Oasis Djarum Kudus,” katanya.
Selain memanfaatkan limbah dapur untuk pakan ternak, warga sebelumnya juga mengembangkan budidaya maggot guna membantu mengurai sampah makanan. Namun saat musim hujan, perkembangan maggot dinilai kurang maksimal.
Meski demikian, proses fermentasi sampah organik tetap dilakukan agar limbah yang digunakan sebagai pakan tidak menimbulkan bau menyengat di sekitar kandang.
Warga juga memiliki cara unik untuk mengurangi gangguan tikus di area peternakan, yakni memanfaatkan ampas kopi dari sejumlah kedai kopi di Kudus.
“Sisa kopi dari coffee shop kami ambil untuk membantu mengurangi tikus. Aromanya masih kuat jadi cukup membantu,” jelasnya.
Saat ini jumlah entok yang dipelihara di kandang tersebut mencapai sekitar 70 ekor dengan kebutuhan pakan yang disesuaikan dari jumlah sampah organik yang terkumpul setiap harinya. (*)








