KUDUS, Kaifanews — Festival Film Anak Bangsa (FFAB) mulai memanaskan rangkaian pra-acara melalui program Road to FFAB #2 dengan menyambangi SMAS Kanisius Kudus.
Lewal pemutaran dan diskusi film pendek, pelajar diajak menelisik realitas sosial yang kerap luput dari perhatian, namun dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mengusung tema besar Scene the Unseen, kegiatan ini menjadi ruang belajar alternatif bagi siswa untuk memahami film bukan sekadar hiburan, melainkan medium refleksi sosial.
Program ini terlaksana berkat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana dan LPDP, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kebudayaan dan kreativitas sineas muda di daerah.
Dalam sesi tersebut, sineas asal Kudus Elang Ade Iswara hadir sebagai narasumber dengan menghadirkan tiga film pendek hasil kurasi.
“Kami menyiarkan film pendek yakni Mau Tahu?, Ulat-Ulat Menggeliat, dan Surat Keterangan Tidak Mampu. Dengan tayangan ini kami membuka ruang diskusi tentang pengalaman manusia dari lingkup personal, sosial, hingga sistem birokrasi,” ujarnya pada Senin (2/1/2026).
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para siswa. Elang Ade Iswara menekankan bahwa film memiliki kekuatan moral untuk menjembatani beragam lapisan kehidupan. Ia mendorong pelajar agar berani mengangkat pengalaman nyata di sekitar mereka menjadi cerita visual.
“Film mengajarkan empati. Dari hal yang paling pribadi hingga persoalan sistem, semua berangkat dari manusia dan ceritanya. Film mungkin selesai dalam beberapa menit, tapi sudut pandang kita bisa berubah saat keluar dari ruang pemutaran,” tuturnya.
Kepala SMAS Kanisius Kudus, Diana Dewi Puspitasari, menilai kegiatan tersebut relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter siswa di tengah derasnya arus konten digital. Menurutnya, film mampu menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan empati dan daya kritis generasi muda.
“Melalui karya-karya ini, siswa diajak merefleksikan realitas sosial yang ada di sekitar mereka. Harapannya, mereka tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan nurani dan mampu memahami makna di balik setiap peristiwa,” ujarnya.
Sementara itu, Penggagas FFAB sekaligus penggiat budaya Kudus, Asa Jatmiko, menjelaskan bahwa Scene the Unseen lahir dari kegelisahan terhadap banyaknya cerita kemanusiaan yang sering terpinggirkan. FFAB, kata dia, berupaya menjadikan film sebagai ruang aman untuk mendengar dan memanusiakan pengalaman-pengalaman tersebut.
“FFAB ingin merayakan kemanusiaan lewat layar. Tahun lalu kami merangkul 157 film dari berbagai daerah di Indonesia. Dukungan Dana Indonesiana dan LPDP menjadi energi penting agar sinema tetap hidup sebagai ruang ekspresi yang jujur dan intim,” ungkapnya.
Program Road to FFAB #2 tidak berhenti di Kudus. Rangkaian kegiatan selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Jepara pada 11 Februari dan 28 Maret, serta Pati, dengan melibatkan sineas muda seperti Adam Mifa dan Cornel Innos.
“Festival Film Anak Bangsa sendiri merupakan wadah pengembangan dan apresiasi bagi sineas muda Indonesia. Berangkat dari gerakan komunitas, FFAB terus berupaya membangun ekosistem perfilman yang inklusif dan relevan, khususnya bagi pembuat film independen di daerah,” tandasnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca