KUDUS, Kaifanews – Melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan berbagai pelaku usaha, mulai dari pedagang pasar tradisional, pelaku UMKM, hingga sektor ritel modern. Kondisi tersebut membuat banyak pengusaha harus memutar otak untuk mencari strategi baru agar usaha tetap berjalan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Kondisi perekonomian Indonesia pada 2026 diprediksi menghadapi tantangan cukup berat, khususnya terkait daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga. Pengamat Ekonomi LPEM UI, Teuku Riefky, menilai berbagai persoalan struktural yang selama ini menumpuk mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup yang semakin tinggi, serta ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor yang memengaruhi perilaku belanja masyarakat. Konsumen kini cenderung lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang dan memprioritaskan kebutuhan utama dibanding belanja sekunder.
Sejumlah pedagang di Kota Kudus mengaku omzet penjualan mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Salah satunya dirasakan Rina (38), pemilik toko aksesoris Groomy. Ia mengatakan pembeli saat ini lebih banyak melihat-lihat dibanding melakukan transaksi.
“Kalau dulu akhir pekan ramai, sekarang agak sepi. Pembeli banyak yang tanya harga tapi akhirnya tidak jadi beli. Mereka lebih memilih menahan pengeluaran,” ujarnya, Kamis 15 Mei 2026.
Kondisi serupa juga dialami pelaku usaha kuliner. Beberapa pemilik warung makan mengaku harus menyesuaikan harga menu agar tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas makanan secara signifikan.
Budi Santoso, pemilik warung makan di daerah Ploso, mengaku kini lebih fokus menyediakan paket hemat untuk menarik pelanggan. Menurutnya, strategi tersebut cukup membantu menjaga jumlah konsumen tetap stabil.
“Sekarang orang lebih sensitif soal harga. Jadi kami buat menu paket yang lebih murah supaya pelanggan tetap datang,” katanya.
Tak hanya usaha kecil, sektor ritel modern juga mulai merasakan dampaknya. Banyak pusat perbelanjaan terlihat tidak seramai biasanya, terutama di luar akhir pekan. Beberapa toko bahkan mulai memberikan diskon lebih agresif untuk mempertahankan penjualan.
Menurut Pengamat Ekonomi LPEM UI, Teuku Riefky, ketimpangan ekonomi membuat hasil pertumbuhan tidak terdistribusi secara merata kepada masyarakat. Akibatnya, jumlah kelas menengah terus mengalami penyusutan, sementara kemampuan belanja rumah tangga semakin menurun.
Ketika pendapatan masyarakat tidak naik signifikan sementara pengeluaran meningkat, maka pola konsumsi otomatis berubah. Masyarakat akan lebih selektif dalam berbelanja.
Riefky mengatakan, kondisi tersebut menuntut pelaku usaha lebih adaptif serta inovatif dalam membaca kebutuhan pasar. Strategi promosi, inovasi produk, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Ia menilai pelaku UMKM yang mampu memanfaatkan media sosial dan platform digital memiliki peluang lebih besar bertahan di tengah perlambatan konsumsi masyarakat. Selain lebih hemat biaya promosi, pemasaran digital juga dinilai mampu menjangkau konsumen lebih luas.
Selain melakukan inovasi pemasaran, sebagian pelaku usaha juga mulai menekan biaya operasional. Ada yang mengurangi stok barang, menyesuaikan jam operasional, hingga lebih selektif dalam melakukan ekspansi usaha.
Di sisi lain, pemerintah daerah didorong untuk terus memperkuat program pemberdayaan UMKM melalui pelatihan, bantuan permodalan, hingga pendampingan pemasaran digital. Langkah tersebut dinilai penting agar usaha kecil tetap mampu bertahan dan menjaga perputaran ekonomi daerah.
Meski kondisi ekonomi sedang penuh tantangan, sejumlah pelaku usaha tetap optimistis situasi akan membaik. Mereka percaya kreativitas dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah melemahnya daya beli masyarakat. (*)








