KUDUS, Kaifanews — Nuansa Hari Kartini terasa berbeda di lingkungan Universitas Muhammadiyah Kudus. Para dosen dan tenaga kependidikan perempuan tampil anggun mengenakan kebaya, namun tetap menjalankan aktivitas akademik seperti biasa, Selasa 21 April 2026.
Pemandangan menarik terlihat di berbagai sudut kampus, termasuk di laboratorium. Meski balutan kebaya dan rok membatasi ruang gerak, para dosen tetap sigap mengajar hingga mendampingi mahasiswa dalam kegiatan praktik.
Ketua Program Studi S1 Gizi UMKU, Purbowati, menjadi salah satu yang tetap aktif mengajar di Laboratorium Gizi dengan mengenakan kebaya hijau yang dipadukan rok batik dan jilbab.
“Saya bangga mengenakan pakaian perempuan Indonesia ini. Dengan memakai kebaya, menunjukkan bahwa saya tidak meninggalkan kodrat sebagai perempuan, tapi juga berwawasan luas,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan praktik.
Ia mengakui, penggunaan kebaya memang membuat gerak tidak seleluasa biasanya. Namun hal itu tidak mengurangi semangatnya dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Menurutnya, sosok Raden Ajeng Kartini menjadi inspirasi penting bagi perempuan Indonesia untuk terus berkontribusi dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan.
“Berkebaya menjadi wujud perempuan Indonesia ikut berperan memajukan bangsa sesuai profesinya masing-masing,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perempuan memiliki peran strategis, baik dalam keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Perempuan punya peran sangat penting dalam berbagai lini kehidupan,” paparnya.
Tak hanya sebatas simbol, semangat Kartini di UMKU juga diwujudkan melalui kegiatan kreatif. Fakultas Kesehatan menggelar lomba foto bertema “Semangat Kartini” yang diikuti civitas academica. Peserta diminta mengunggah foto berkebaya saat beraktivitas di kampus melalui media sosial, dengan penilaian berbasis jumlah apresiasi dari publik.
Menariknya, semangat peringatan ini juga didukung penuh oleh civitas academica laki-laki. Para dosen dan tenaga kependidikan pria kompak mengenakan batik sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Kartini.
Perpaduan antara busana tradisional dan aktivitas akademik modern ini menjadi gambaran nyata bahwa semangat Kartini tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus hidup dalam karya dan dedikasi perempuan masa kini. (*)








