SEMARANG, Kaifanews – Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama Museum Jawa Tengah Ranggawarsita kembali memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi Augmented Reality (AR) untuk virtual fitting batik Nusantara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai upaya mendukung pelestarian budaya melalui transformasi digital di lingkungan museum.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ketua tim peneliti, Godham Eko Saputro, menjelaskan bahwa penelitian ini merupakan kelanjutan dari riset dasar yang telah berhasil mengembangkan model AR wastra klasik Nusantara pada tahun sebelumnya.

Pada tahun kedua pelaksanaan penelitian, tim memperkaya aplikasi Kainverse (Ageman Nusantara) dengan menambahkan berbagai koleksi batik Nusantara sehingga pengalaman pengguna menjadi lebih beragam dan representatif.

Melalui teknologi virtual fitting, pengunjung museum dapat mencoba berbagai motif batik secara virtual sekaligus memperoleh informasi mengenai sejarah, filosofi, makna, serta karakteristik setiap wastra. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, edukatif, dan menarik, terutama bagi generasi muda.

“Selama ini digitalisasi wastra masih didominasi dokumentasi visual atau katalog digital. Padahal masyarakat membutuhkan pengalaman yang lebih imersif agar nilai budaya dapat dipahami secara lebih mendalam,” ujar Godham saat ditemui pada Sabtu 25 Juli 2026.

Pada tahap penelitian lanjutan ini, fokus utama tidak lagi pada pengembangan teknologi baru, melainkan pada implementasi model AR dalam operasional museum. 
Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama Museum Jawa Tengah Ranggawarsita kembali memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi Augmented Reality (AR). (Istimewa)

Tim peneliti akan mengevaluasi kesiapan sumber daya manusia, pengalaman pengunjung, sistem operasional, serta strategi keberlanjutan penerapan teknologi tersebut sebagai bagian dari layanan museum.

Penelitian dilaksanakan menggunakan pendekatan Design-Based Implementation Research (DBIR) yang memungkinkan proses implementasi dilakukan secara bertahap melalui observasi lapangan, uji coba kepada pengunjung, Focus Group Discussion (FGD), serta penyempurnaan model berdasarkan hasil evaluasi yang diperoleh selama penelitian berlangsung.

“Selain menghasilkan model implementasi yang siap diterapkan di museum, penelitian ini juga menargetkan penyusunan dokumen feasibility study yang mencakup aspek teknis, operasional, sumber daya manusia, serta keberlanjutan implementasi,” kata Godham.

Luaran lainnya meliputi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI), publikasi ilmiah internasional bereputasi, serta kegiatan diseminasi bersama Museum Jawa Tengah Ranggawarsita.

Melalui penelitian ini, UNNES dan Museum Jawa Tengah Ranggawarsita berharap dapat menghadirkan model hilirisasi hasil riset perguruan tinggi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kolaborasi antara akademisi dan museum diharapkan mampu menjadikan teknologi digital tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang memperkuat apresiasi masyarakat terhadap kekayaan wastra Nusantara,” paparnya.

Dengan demikian, museum tidak lagi dipandang semata sebagai ruang penyimpanan koleksi budaya, melainkan berkembang menjadi pusat inovasi budaya digital yang menghubungkan warisan budaya dengan perkembangan teknologi secara berkelanjutan.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model penerapan teknologi budaya digital yang dapat direplikasi di berbagai museum di Indonesia,” jelasnya.
Kepala Museum Jawa Tengah Ranggawarsita, Agung Raharjo Wibowo Kusumo, S.E., M.M., menyampaikan bahwa implementasi awal model AR telah memperoleh respons positif dari masyarakat.

Inovasi tersebut telah dipamerkan dalam ajang Jateng Fair selama dua tahun berturut-turut serta menjadi salah satu daya tarik pada Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara di Museum Ranggawarsita yang turut dikunjungi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.

“Antusiasme masyarakat terhadap teknologi ini menunjukkan bahwa museum dapat menghadirkan pengalaman baru dalam mengenalkan warisan budaya kepada publik melalui pendekatan digital,” ungkap Agung. (*)