KUDUS, Kaifanews — Ruang auditorium Universitas Muria Kudus mendadak berubah menjadi panggung pergulatan batin pada Minggu malam, 5 Juli 2026. Melalui pementasan bertajuk “Riuh dalam Hening”, Kelompok Kajian Teater Tigakoma UMK mengajak penonton menyelami sisi gelap kehidupan seorang people pleaser yang perlahan kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain.
Sejak lampu panggung dinyalakan, suasana mencekam langsung terasa. Dua bentang kain panjang membentuk siluet bayangan, sementara deretan topeng berwarna-warni menggantung di langit-langit panggung, menjadi simbol berbagai wajah yang harus dikenakan seseorang demi menyenangkan orang lain.
Tokoh utama bernama Serena digambarkan sebagai perempuan pekerja keras yang nyaris tak pernah menolak permintaan siapa pun. Di kantor ia harus lembur hingga larut malam, sementara setibanya di rumah berbagai tanggung jawab baru kembali menantinya.
Tak hanya diminta menyelesaikan revisi pekerjaan, Serena juga harus membantu tugas sekolah adiknya hingga dipaksa mengerjakan esai milik keponakan keluarganya untuk keperluan pendaftaran kuliah. Semua itu diterimanya tanpa pernah berani mengatakan “tidak”, meski tubuh dan pikirannya mulai kelelahan.
Tekanan terus bertambah ketika rekan kerjanya meminta bantuan memeriksa proposal klien. Niat baik Serena justru berujung petaka setelah hasil pekerjaan tersebut memicu kemarahan atasannya. Sejak saat itu, beban yang selama ini dipendam berubah menjadi kekacauan emosi yang terus menghantui pikirannya.
Puncak pertunjukan menghadirkan visual yang kuat. Tujuh sosok imajiner mengelilingi Serena, masing-masing melambangkan emosi yang bergejolak dalam dirinya, mulai dari perfeksionisme, amarah, ambisi, harapan, keraguan, rasa takut hingga ego.
Ketujuh sosok itu menari mengitari Serena sebelum mengikat tubuhnya dengan kain panjang hingga tak lagi mampu bergerak. Adegan tersebut menjadi simbol bagaimana tekanan batin perlahan membelenggu seseorang yang terus memaksakan diri terlihat baik-baik saja.

Harapan kemudian muncul lewat sosok Serena kecil berpakaian putih yang membawa lampu gantung sebagai lambang kebebasan. Kehadirannya menjadi ajakan agar Serena berani keluar dari belenggu ekspektasi dan mulai menerima dirinya sendiri.
Sutradara pementasan, Dita Taqiya, mengatakan “Riuh dalam Hening” merupakan karya pertunjukan yang dimainkan para anggota baru Teater Tigakoma UMK setelah mengikuti rangkaian workshop teater.
“Pentas kupen atau kudune pentas ini menjadi ruang bagi warga baru untuk menunjukkan hasil proses belajar mereka selama mengikuti workshop teater,” ujarnya.
Menurut Dita, naskah karya Mazidatul Chilmi tersebut dipilih karena mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini, yakni kecenderungan menjadi people pleaser hingga mengorbankan kesehatan mental sendiri.
“Pertunjukan ini mengisahkan pergulatan batin Serena, sosok yang dikenal perfeksionis, gemar menolong, namun sulit berkata tidak kepada orang lain. Dari situlah berbagai tekanan muncul hingga perlahan menghancurkan kesehatan mentalnya,” paparnya.
Ia berharap pementasan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga ruang refleksi bagi penonton untuk lebih mengenali batas kemampuan diri dan berani mengungkapkan apa yang dirasakan.
“Riuh dalam Hening sebenarnya ingin menunjukkan bahwa keramaian di kepala itu benar-benar ada dan tekanan mental bisa dialami siapa saja. Barangkali keberanian yang sesungguhnya bukanlah memikul semua beban dan ekspektasi orang lain, melainkan berani berkata tidak dan berani berkata lelah ketika diri sudah mencapai batas,” tandasnya. (*)









