KUDUS, Kaifanews – Menari adalah cara jiwa mengingat bentuknya yang asli. Premis itu yang dibawa Pagelaran Seni Tari “Serah 4”, sebuah gelaran yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kudus (DKK) untuk menghadirkannya ke publik pada Jumat malam, 25 April 2026. Seperti yang dirilis oleh laman Instagram ‘Serah’ yakni @serah.hub beberapa waktu lalu.
Diharapkan pada Jum’at malam 25 April 2026 pukul 19.00 WIB Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) akan berubah menjadi ruang pertemuan antara tubuh, musik, dan makna. Pintu terbuka gratis untuk umum, mengundang siapa saja yang rindu pulang lewat gerak.
Dalam imaji para koreografer dan penari, dunia di atas panggung “Serah 4” boleh kehilangan batasnya, seperti mantra yang tak selesai dirapal. Yang akan hadir di hadapan penonton adalah perjalanan jiwa yang mencari pulang. Dan bila nanti tubuh mulai bergerak, ketahuilah: itu senandung manusia dan semesta yang saling mengingat kembali.
DKK menghadirkan “Serah 4” bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebagai laku hening. Penonton diajak menepi sejenak dari riuh dan membiarkan gerak menuntun ingatan.
Pagelaran Tari "Serah 4", Perjalanan Jiwa di Auditorium UMK 25 April 2026
Visualisasi salah satu koreo yang akan dipentaskan dalam Serah 4 di Auditorium UMK (25/04/2026). Dok. Dewan Kesenian Kudus
Tujuh penari akan membunyikan gagasan itu bersama: Nazala Layinatus Sifa, Muhammad Fa’iz Santana, Naisya Zaidatul Aziza, Fani Rahma Pratiwi, Fika Esriliana, Riska Rahma Alya, dan Mandala Sandi Yudha. Setiap langkah mereka direkam dalam bingkai visual oleh @dokudrama.id, memastikan bahwa denyut panggung tak berhenti pada malam pementasan saja.
Kolaborasi ini tumbuh dari kolektif Taricapti yang konsisten menjadikan tari sebagai bahasa merawat ingatan dan merayakan kemanusiaan, dengan dukungan penuh dari Dewan Kesenian Kudus sebagai penyelenggara.
Bagi penikmat seni di Kudus dan sekitarnya, “Serah 4” adalah momentum langka. Di tengah gempuran konten serba cepat, pementasan yang difasilitasi DKK ini menawarkan jeda. Ia mengajak kita duduk, menyaksikan, dan membiarkan tubuh para penari berbicara tentang rindu, luka, dan rumah yang mungkin lama tak kita datangi.
Datang dan saksikanlah. Biarkan tubuh mengingat, dan jiwa menemukan rumahnya. (*)

Scroll Untuk Lanjut Membaca