KUDUS, Kaifanews — Kesuksesan Aqshal Ilham Safatullah menembus podium ajang balap Asia di Sepang, Malaysia, tak lepas dari latihan keras, mental kuat, serta dukungan penuh keluarga. Di balik hasil gemilang tersebut, tersimpan proses panjang yang penuh pengorbanan.
Ayahnya, Bambang Siswanto, mengungkapkan bahwa salah satu kunci utama keberhasilan Aqshal adalah ketenangan saat balapan serta kondisi fisik yang terjaga.
“Pembalap itu harus tenang. Dia juga rutin latihan fisik, biasanya seminggu dua kali ke base track untuk menjaga kondisi,” ujarnya saat ditemui di Kudus, Kamis 16 April 2026.
Latihan tersebut dilakukan di sirkuit lokal yang berada di wilayah Mijen Semarang. Fasilitas itu dimanfaatkan Aqshal untuk mengasah kemampuan teknik sekaligus menjaga kebugaran tubuh agar tetap prima saat berlaga di lintasan meski harus bolak balik keluar kota.
“Alhamdulillah ada sirkuit latihan di sini, jadi bisa dimanfaatkan. Itu sangat membantu untuk perkembangan dia,” katanya.
Menurut Bambang, kemampuan Aqshal dalam mengatur ritme balapan menjadi keunggulan tersendiri. Ia menilai anaknya memiliki insting yang baik dalam mengambil peluang untuk menyalip lawan.
“Dia pintar ambil momen. Nyalip satu per satu dengan tenang, itu yang bikin dia bisa naik posisi,” jelasnya.
Keberhasilan meraih podium ketiga dari posisi start ke-18 di Sepang pun menjadi momen yang sangat membanggakan bagi keluarga.
“Saya bangga sekali. Dari grid 18 bisa finis ketiga itu luar biasa. Itu perjuangan yang tidak mudah,” ucapnya.
Dalam setiap balapan, Bambang juga aktif memberikan evaluasi kepada Aqshal. Bahkan, komunikasi intens dilakukan usai lomba untuk membahas kekurangan yang perlu diperbaiki.
“Kalau habis balapan, dia biasanya telepon kakaknya yang melihat dari rekaman. Terus kita evaluasi bersama, dikritik sedikit-sedikit supaya ke depan lebih baik,” paparnya.
Bambang mengakui, perjalanan menuju titik ini tidaklah mudah. Sejak awal, Aqshal berlatih secara mandiri dengan biaya sendiri sebagai pembalap privat (privater). Semua kebutuhan, mulai dari motor, akomodasi, hingga perlengkapan balap, ditanggung keluarga.
“Biayanya tidak sedikit. Bukan cuma jutaan, bisa ratusan juta bahkan sampai miliaran untuk membiayai anak balap,” ungkapnya.
Ia sendiri merupakan mantan pembalap yang sempat merasakan kerasnya dunia balap, namun harus berhenti karena keterbatasan biaya. Pengalaman itulah yang kemudian mendorongnya untuk mendukung penuh anak-anaknya agar bisa meraih mimpi yang sama.
“Saya dulu juga balap, tapi karena biaya tidak cukup akhirnya berhenti. Sekarang anak saya ingin balap, ya saya dukung semampunya,” katanya.
Aqshal mulai dikenalkan dunia balap sejak duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya sekitar kelas lima hingga enam SD. Sejak saat itu, ia terus ditempa melalui latihan dan berbagai kejuaraan, baik tingkat daerah maupun nasional.
“Sejak SD sudah saya latih. Awalnya semua dari nol, privater, biaya sendiri dari bengkel juga,” jelasnya.
Kini, hasil dari kerja keras tersebut mulai terlihat. Aqshal berhasil menembus kompetisi level Asia dan mendapatkan dukungan dari tim internasional. Meski begitu, Bambang menegaskan bahwa perjalanan anaknya masih panjang dan membutuhkan konsistensi tinggi.
“Harapan saya dia tetap komitmen, disiplin, dan terus berlatih. Jangan cepat puas,” ujarnya.
Selain itu, ia juga berharap ke depan Aqshal bisa berkontribusi untuk perkembangan dunia balap di Kudus, termasuk membina generasi muda yang memiliki minat di bidang tersebut.
“Semoga nanti bisa lebih diperhatikan dan terdapat fasilitas sirkuit di Kudus, kami juga sudah siap untuk ikut membina pembalap-pembalap muda di Kudus,” tandasnya. (*)








