KUDUS, Kaifanews — Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat ratusan kasus suspek campak sepanjang tahun 2025 hingga awal tahun 2026. Meski jumlah temuan kasus cukup tinggi, hingga pertengahan Maret 2026 kondisi tersebut dipastikan masih terkendali dan belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan laporan DKK Kudus per 13 Maret 2026, total terdapat 464 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 257 kasus terjadi pada laki-laki dan 207 kasus pada perempuan.

Subkoordinator Surveilans dan Imunisasi DKK Kudus, Aniq Fuad, menjelaskan bahwa tren kasus pada Maret 2026 justru mulai menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

“Untuk bulan Maret kasusnya sudah mulai menurun. Kami terus melakukan edukasi kepada masyarakat, terutama terkait pentingnya imunisasi, perbaikan gizi anak, serta menjaga lingkungan yang sehat,” ujarnya saat dihubungi, Senin (16/3/2026).

Dari sisi pemeriksaan laboratorium, tercatat sebanyak 464 sampel telah dikirim. Dari 60 sampel yang diperiksa, sebanyak 31 di antaranya dinyatakan positif, dengan positivity rate sekitar 6,68 persen.

Menurut Fuad, salah satu faktor meningkatnya kasus suspek campak tidak lepas dari menurunnya cakupan imunisasi pada masa pandemi COVID-19. Saat ini, banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, terutama vaksin Measles Rubella (MR).

“Pada masa COVID-19 memang banyak anak balita yang status imunisasi MR-nya belum lengkap karena keterbatasan layanan vaksinasi saat itu,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, DKK Kudus telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan upaya kejar imunisasi bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap.

Sasaran program utama tersebut meliputi anak usia di bawah lima tahun serta siswa sekolah dasar, khususnya kelas 1 dan kelas 3, melalui kegiatan imunisasi di sekolah maupun fasilitas kesehatan.

“Kami melakukan kejar imunisasi untuk anak di bawah lima tahun serta anak sekolah agar status imunisasinya bisa segera lengkap,” katanya.

Selain imunisasi, DKK Kudus juga menekankan pentingnya deteksi dini gejala campak oleh orang tua. Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain demam disertai munculnya ruam atau bercak merah pada kulit.

Namun demikian, saya mengakui masih ada masyarakat yang cenderung menyepelekan gejala awal penyakit sehingga terlambat membawa anak ke fasilitas kesehatan.

“Kadang masyarakat menganggap enteng gejala awal. Biasanya baru datang ke fasilitas kesehatan setelah kondisinya cukup berat. Ini yang terus kami edukasi agar segera memeriksakan diri saat muncul gejala awal,” terangnya.

DKK Kudus juga memastikan bahwa layanan pengobatan campak di fasilitas kesehatan pemerintah diberikan secara gratis. Bahkan hingga saat ini, kasus tersangka campak di Kudus tidak sampai menimbulkan kematian.

“Alhamdulillah atas angka kematian nol, dan pelayanan pengobatan di rumah sakit untuk kasus campak juga gratis,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau para orang tua yang memiliki anak usia di bawah 59 bulan agar memastikan anaknya mendapatkan imunisasi MR lengkap sesuai jadwal.

“Harapan kami orang tua dapat memastikan anaknya mendapatkan imunisasi MR lengkap, karena ini langkah paling efektif untuk mencegah campak,” tandasnya. (*)