JAKARTA, Kaifanews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan signifikan hingga menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi sorotan pelaku pasar dan masyarakat, mengingat posisi tersebut mendekati titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Rabu pagi, rupiah turun 13 poin atau 0,08% menjadi 17.157 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di 17.143 per dolar AS.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) tetap menunjukkan sikap optimistis terhadap prospek penguatan rupiah ke depan. Pihak bank sentral menilai tekanan yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama ketidakpastian global dan kebijakan moneter negara maju.
Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan tetap terjaga stabil dan berpotensi menguat. Optimisme ini ditopang oleh komitmen kuat Bank Indonesia, daya tarik imbal hasil domestik, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang dinilai masih solid.
“Kebijakan stabilisasi rupiah terus kami perkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Perry dalam Konferensi Pers RDG Bank Indonesia April 2026, Rabu, 24 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing guna menjaga kestabilan rupiah. Langkah tersebut dilakukan baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri (offshore) maupun melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.
Selain itu, penguatan juga dilakukan pada struktur suku bunga instrumen moneter untuk menarik arus masuk investasi portofolio asing. Bank Indonesia turut memperkuat kebijakan transaksi valas dengan menyesuaikan batas (threshold) pembelian valas terhadap rupiah, menaikkan batas transaksi DNDF/forward, serta meningkatkan batas transaksi swap, yang mulai berlaku sejak April 2026.
“Melalui berbagai langkah tersebut, nilai tukar rupiah dapat dijaga relatif stabil. Per 21 April 2026, rupiah tercatat berada di level Rp 17.140 per dolar AS atau melemah 0,87 persen (point to point) dibandingkan posisi akhir Maret 2026,” jelasnya.
BI juga menegaskan akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi, baik melalui intervensi di pasar valas maupun kebijakan moneter lainnya. Koordinasi dengan pemerintah pun diperkuat guna menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, pelaku usaha berharap pemerintah dan otoritas terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk meredam gejolak nilai tukar. Pasalnya, pelemahan rupiah berdampak langsung pada biaya impor bahan baku dan potensi kenaikan harga barang di dalam negeri.
Analis menilai, peluang penguatan rupiah masih terbuka apabila tekanan global mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik. Stabilitas ekonomi dalam negeri juga menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan investor.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, BI tetap yakin bahwa rupiah akan kembali ke jalur penguatan secara bertahap, meskipun tantangan global masih membayangi dalam jangka pendek. (*)








