KUDUS, Kaifanews — Upaya memperkuat budaya literasi sekaligus kreativitas generasi muda di era digital terus didorong Pemerintah Kabupaten Kudus. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mendukung penuh adanya kegiatan positif Gerakan Santri Menulis 2026 bertajuk “Santri Gen-Z Memproduksi Konten Media” di Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus, Senin (23/2/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran baru bagi para santri untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus memproduksi konten media yang terstruktur, humanis, santun, dan berbobot di tengah derasnya arus informasi digital.
Dalam arahannya, Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi harus diimbangi dengan kemampuan literasi yang kuat. Menurutnya, kemajuan digital tidak boleh membuat generasi muda meninggalkan kebiasaan membaca dan menulis.
“Perkembangan teknologi informasi harus kita manfaatkan dengan baik, tetapi jangan sampai generasi muda melupakan membaca dan menulis. Dua hal ini adalah fondasi utama dalam membangun kualitas gagasan,” ujarnya.
Ia menilai santri memiliki potensi besar menjadi agen penyebar narasi positif di ruang publik digital. Kemampuan menulis dinilai bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi juga sarana dakwah modern yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Santri harus mampu menghadirkan konten yang menyejukkan, mencerdaskan, serta memberi manfaat bagi masyarakat luas,” katanya.
Melalui Gerakan Santri Menulis 2026, para peserta dibekali pemahaman tentang teknik menulis jurnalistik, produksi konten media sosial, hingga penyusunan narasi publik yang bertanggung jawab.
Bupati Kudus mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah daerah, pesantren, dan media dalam membangun ekosistem literasi digital.
“Kami mengapresiasi kepedulian Suara Merdeka Group yang turut menumbuhkan semangat literasi santri. Ini bagian dari ikhtiar bersama mencetak generasi yang cakap digital sekaligus kuat dalam tradisi literasi,” jelasnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang lahirnya kreativitas dan inovasi generasi muda. Santri didorong mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Bupati berharap santri mampu menjadi produsen informasi yang bijak di tengah maraknya hoaks dan konten negatif di media sosial.
“Santri harus hadir membawa nilai kebaikan. Konten yang dibuat harus memberi inspirasi, bukan sekadar mengikuti tren,” tandasnya.








