KUDUS, Kaifanews – Sedulur Maiyah Kudus (Semak) menggelar acara rutinan bulanan berupa diskusi budaya “Mengenal Lebih Dekat: Sinau Membersamai Perjalanan”, yakni Semak’an Edisi 102, di Rumah Jabatan Wakil Bupati Kudus, Sabtu malam, 16 Mei 2026.
Acara yang dimoderatori Kang Aan dan Kang Ali ini menghadirkan dua personel Kiai Kanjeng, Ari Sumarsono alias Ari Blothong dan Doni Saputro, sebagai narasumber utama. Doni Saputro sendiri merupakan eks-vokalis grup band Seventeen era 2000-an, sebelum masa Ivan Seventeen.
Keduanya berbagi kisah tentang perjalanan panjang bersama Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun dalam mengawal seni, budaya, dan Sinau Bareng melalui jalur kesenian.

Ari Blothong mengisahkan bahwa bagi Cak Nun, ilmu agama dan seni tidak pernah dipisahkan.
“Cak Nun itu tidak memisahkan ilmu agama dan musik. Justru melalui Cak Nun, gamelan Kiai Kanjeng diajak melayani jamaah Maiyah dengan musik lewat Sinau Bareng dalam tiap perjalanan,” ujarnya.
Ari juga mengenang pesan singkat dari Cak Nun ketika masih berada di Mekah, di masa sebelum ada Android. Ia menyebut Cak Nun jarang memberi perintah, namun sekali beliau mengirim pesan bernada ajakan, maknanya selalu dalam dan menjadi “penanda” penting.
“Malam itu beliau kirim SMS: ‘Bengi iki ojo turu, nek iso melek o, dzikiro.’ Saat itu belum ada grup WA. Satu per satu personel ia SMS. Mungkin beliau sudah mendapat ilham dari Sang Pencipta,” kata Ari.
“Dan keesokan paginya, entah kebetulan entah tidak, berita tsunami menjadi sorotan utama di televisi nasional,” tambahnya.

Sementara Doni Saputro menuturkan bahwa perbedaan pendapat pernah terjadi di internal Kiai Kanjeng. Namun Cak Nun selalu menekankan agar diselesaikan secara terbuka di forum internal.
“Sampai beliau pernah berkata: ‘Nek arep gelut gelut sak Iki,’ yang artinya, kalau ingin beradu argumen, maka silakan dilakukan saat itu juga bersama-sama, agar tidak ada masalah yang dipendam hingga berlarut,” jelasnya.
Koordinator Sedulur Maiyah Kudus, Kang Iwan, menutup diskusi dengan menjelaskan dua sikap dalam mengikuti seorang guru.
“Belajar dari tokoh seperti Cak Nun itu ada dua pilihan: ‘mengikuti jejak’ atau ‘mengikuti langkah’. Kalau mengikuti jejak, kita akan terus menjaga jarak di belakang sambil memperhatikan alur perjalanan beliau. Tapi kalau mengikuti langkah, pelan-pelan akan ada saatnya kita bisa berjalan di samping, melangkah seirama, bahkan dengan tetap menjadi diri sendiri yang otentik,” ujarnya.
Suasana malam semakin syahdu dengan alunan musik dari grup pesanggrahan “Suro Legowo”, ditemani suguhan kopi dan jajanan hasil alam seperti kacang godog, pisang godog, jangklong, ketela, dan lainnya. (*)








