Kaifanews — Suasana berbeda tampak di Aula SD Pati Kidul 01, ratusan siswa yang mengikuti kegiatan pesantren kilat Ramadan tidak hanya belajar tentang ibadah, tetapi juga mendapatkan edukasi keselamatan berlalu lintas langsung dari jajaran Satuan Lalu Lintas Polresta Pati melalui program Ramadan Safety Class.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Program edukatif tersebut menjadi bagian dari upaya kepolisian menanamkan karakter disiplin serta budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini. Kegiatan dipimpin Kanit Kamsel Satlantas Polresta Pati Iptu Gunawan Sutrisno bersama anggota Unit Kamsel yang hadir menyapa para siswa dengan pendekatan komunikatif dan suasana penuh keakraban.

Dalam penyampaiannya, Gunawan menegaskan bahwa bulan Ramadan menjadi momentum tepat untuk membangun kebiasaan baik bagi anak-anak, termasuk memahami aturan lalu lintas sebagai bagian dari pembentukan karakter.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kedisiplinan serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berada di jalan raya,” ujarnya pada Rabu (25/2/2026).

Materi yang disampaikan tidak sebatas teori keselamatan berkendara. Para siswa juga diajak memahami nilai akhlakul karimah, seperti menghormati orang tua dan guru, menjaga ketertiban lingkungan, serta menghindari perilaku negatif yang kerap muncul selama Ramadan.

Kasat Lantas Polresta Pati Kompol Riki Fahmi Mubarok menegaskan bahwa pendidikan keselamatan tidak bisa menunggu seseorang dewasa. Menurutnya, kebiasaan tertib harus dibangun sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah dasar.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa tertib berlalu lintas merupakan bagian dari ibadah sekaligus cerminan akhlak yang baik. Jika kesadaran ini tertanam sejak kecil, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih bertanggung jawab,” katanya.

Ia juga menyoroti sejumlah fenomena kenakalan remaja yang sering muncul selama Ramadan, seperti perang sarung maupun penggunaan petasan yang berpotensi membahayakan keselamatan.

“Kami mengimbau anak-anak agar tidak ikut perang sarung atau bermain petasan. Selain berbahaya, kegiatan itu juga dapat mengganggu ketertiban masyarakat. Ramadan seharusnya diisi dengan kegiatan positif dan bermanfaat,” jelasnya.

Menurut Riki, pendekatan edukatif dan persuasif menjadi strategi utama kepolisian dalam membangun kedekatan dengan generasi muda. Polisi, lanjutnya, ingin hadir sebagai sahabat anak-anak, bukan sosok yang menakutkan.

“Kami datang untuk mengedukasi dengan cara menyenangkan. Anak-anak lebih mudah memahami aturan ketika disampaikan secara ramah dan interaktif,” paparnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan sekolah dan lingkungan keluarga. Sinergi antara kepolisian, tenaga pendidik, dan orang tua dinilai menjadi kunci agar pesan keselamatan terus berlanjut.

“Kolaborasi ini penting agar nilai kedisiplinan dan keselamatan tidak berhenti di satu kegiatan saja, tetapi menjadi kebiasaan yang terus melekat,” tandasnya.

Kegiatan berlangsung interaktif, para siswa tampak antusias mengikuti sesi tanya jawab, simulasi sederhana keselamatan di jalan, hingga pembacaan sholawat bersama yang menutup rangkaian acara. Sejumlah hadiah juga diberikan kepada peserta aktif sebagai bentuk apresiasi.