KUDUS, Kaifanews — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus menyatakan dukungan penuh terhadap program pertukaran guru dan siswa yang digagas Bupati Kudus Sam’ani Intakoris sebagai upaya pemerataan kualitas pendidikan.
Ketua PGRI Kabupaten Kudus Ahadi Setiawan menilai program tersebut merupakan langkah strategis untuk memberikan pengalaman baru bagi guru maupun siswa agar mutu pendidikan antar sekolah bisa semakin setara.
“Program tukar guru ini merupakan program strategis dari Bupati Kudus dan kami dari PGRI sangat mendukung. Harapannya siswa bisa saling menimba ilmu dan pengalaman sehingga kualitas pendidikan bisa sejajar,” ujarnya saat dihubungi pada Senin 6 April 2026.
Menurutnya, program tersebut juga diharapkan mampu menghapus stigma adanya sekolah unggulan dan sekolah biasa karena semua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Tidak ada sekolah yang dianggap high class atau level bawah. Semua harus bisa sejajar dalam prestasi pendidikan,” katanya.
Ia menjelaskan, mekanisme pertukaran siswa sebelumnya dilakukan dengan cara setiap sekolah mengirimkan enam siswa untuk kemudian dirotasi ke sekolah lain dalam jangka waktu tertentu.
“Skema sebelumnya setiap sekolah mengirimkan enam siswa untuk dirotasi. Misalnya dari satu sekolah ke sekolah lain, kemudian diputar agar semuanya merasakan pengalaman belajar yang berbeda,” jelasnya.
Namun dari hasil evaluasi, durasi program yang hanya berlangsung sekitar lima hari dinilai kurang efektif karena siswa masih dalam tahap pengenalan lingkungan saat program sudah berakhir.
“Kalau hanya lima hari kemarin kurang efektif. Tiga hari baru pengenalan lingkungan, dua hari baru mulai adaptasi, sehingga pengalaman yang didapat belum maksimal,” paparnya.
Karena itu, PGRI mengusulkan agar durasi program diperpanjang agar manfaatnya bisa lebih terasa.
“Idealnya paling tidak satu sampai dua minggu supaya siswa maupun guru benar-benar bisa beradaptasi dan mendapatkan pengalaman yang lebih utuh,” tambahnya.
Sementara untuk pertukaran guru, Ahadi menilai program tersebut penting agar para tenaga pendidik dapat memahami karakteristik siswa di berbagai lingkungan sekolah.
“Misalnya guru dari SMP 1 mengajar di SMP lain, begitu juga sebaliknya. Tujuannya agar guru punya pengalaman menghadapi karakter siswa yang beragam,” terangnya.
Ia optimistis para guru di Kudus memiliki kesiapan profesional untuk mengikuti program tersebut.
“Setiap guru sudah memiliki kemampuan pedagogik. Mereka sudah terbiasa menghadapi siswa dengan berbagai karakter, baik yang unggul di akademik maupun non-akademik,” tandasnya. (*)








