DEMAK – Sangon Manten, tradisi khas Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, tidak hanya menjadi bagian dari dekorasi pelaminan dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Warisan budaya yang sarat makna ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sangon Manten merupakan rangkaian hiasan tradisional yang biasanya dibuat dari berbagai bahan makanan, seperti jajanan pasar, buah-buahan, hasil pertanian, hingga aneka kebutuhan rumah tangga yang disusun secara artistik dan menarik. Dalam tradisi masyarakat Mranggen, Sangon Manten menjadi simbol doa, harapan, serta ungkapan syukur bagi pasangan yang akan membangun rumah tangga.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, memberikan apresiasi atas tetap lestarinya tradisi Sangon Manten di tengah perkembangan zaman. Ia menilai tradisi tersebut merupakan salah satu kekayaan budaya khas Demak yang tidak hanya sarat akan nilai-nilai luhur, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.

Menurut Endah, Sangon Manten mencerminkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat. Nilai-nilai tersebut penting untuk terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di sisi lain, keunikan tradisi ini juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan serta memperkuat identitas Kabupaten Demak sebagai daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal.

“Tradisi Sangon Manten mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong yang harus terus dijaga. Keunikannya dapat menjadi salah satu atraksi wisata budaya yang memperkaya destinasi di Demak sekaligus memperkuat citra daerah sebagai wilayah yang memiliki warisan budaya dan kearifan lokal yang kuat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberadaan Sangon Manten tidak hanya berperan dalam melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi media pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal budaya daerah. Selain itu, tradisi tersebut dinilai mampu mendukung pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya yang saat ini terus didorong oleh Pemerintah Kabupaten Demak.

Seiring perkembangan zaman, keberadaan Sangon Manten tidak hanya dipandang sebagai pelengkap acara pernikahan. Keunikan bentuk, nilai filosofi, dan proses pembuatannya yang membutuhkan keterampilan khusus menjadikannya memiliki nilai budaya yang tinggi dan layak diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Pelaku budaya dan tokoh masyarakat setempat menilai Sangon Manten berpotensi menjadi ikon wisata budaya Kabupaten Demak. Selain menarik perhatian wisatawan, tradisi ini juga dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai warisan budaya daerah.

“Tradisi ini memiliki nilai sejarah, seni, dan filosofi yang sangat kuat. Jika dikemas dengan baik melalui festival atau pameran budaya, Sangon Manten bisa menjadi daya tarik wisata yang unik dan berbeda dari daerah lain,” ujar salah satu pemerhati budaya di Mranggen.

Potensi tersebut semakin terbuka dengan berkembangnya sektor ekonomi kreatif. Pembuatan Sangon Manten melibatkan berbagai pelaku usaha lokal, mulai dari perajin, pedagang jajanan tradisional, hingga pelaku UMKM. Dengan demikian, pelestarian tradisi ini juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Demak pun terus mendorong pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari pengembangan sektor pariwisata. Berbagai tradisi khas daerah diharapkan dapat menjadi identitas sekaligus magnet bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Wali.

Selain menjadi daya tarik wisata, Sangon Manten juga dapat dijadikan materi edukasi budaya di sekolah maupun komunitas masyarakat. Melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pameran, generasi muda dapat memahami nilai gotong royong, kreativitas, dan rasa syukur yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Dengan dukungan berbagai pihak, Sangon Manten memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu ikon wisata budaya Kabupaten Demak. Tidak hanya menjaga kelestarian tradisi leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan memperkuat identitas budaya daerah di tengah arus modernisasi. (*)