Kaifanews – Tiga bulan setelah banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Aceh, kehidupan masyarakat di daerah terdampak masih jauh dari pulih. Di Meureudu, ibu kota Kabupaten Pidie Jaya, lumpur yang mengeras setinggi pinggang orang dewasa masih menimbun banyak rumah warga, menghambat proses pembersihan sekaligus memperlambat aktivitas pemulihan.
Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Tamiang. Warga menggambarkan lingkungan permukiman mereka seperti wilayah yang baru saja terkena ledakan besar.
Debu tebal dari lumpur yang mengering menyelimuti jalan, bangunan, dan fasilitas umum, sehingga aktivitas sehari-hari harus dilakukan dengan perlindungan ekstra.
Desrina Akmalia, salah satu warga terdampak, mengungkapkan kerinduan masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan normal.
“Kami ingin hidup normal lagi. Sekarang kalau keluar rumah harus pakai masker dua lapis, kacamata, dan topi. Kami juga rindu melihat tanaman hijau dan langit biru,” ujarnya.
Warga berharap percepatan penanganan pascabencana, terutama pembersihan lumpur, pemulihan infrastruktur, serta bantuan kesehatan lingkungan, dapat segera dilakukan secara lebih masif agar kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak dapat kembali berjalan seperti sediakala.








