KUDUS, Kaifanews – Pemerintah Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kudus kembali menggelar tradisi Saparan ke-5 sebagai wujud pelestarian budaya dan ungkapan syukur. Rangkaian kegiatan berlangsung empat hari, Kamis 16 Juli hingga Ahad 19 Juli, dengan puncak kirab budaya yang disambut antusias warga.
Tradisi Saparan di desa yang dikenal dengan makam Simbah Buyut Poncowati ini diisi bazar UMKM, lomba mewarnai, penyerahan kambing Saparan, doa bersama di makam Simbah Buyut Poncowati, pembagian nasi barokah, hingga kirab budaya sebagai daya tarik utama.
Sekretaris Kecamatan Jati, Minan, yang mewakili Camat Jati Zainuddin, mengajak generasi muda untuk terus mengenal sejarah desa dan menghormati jasa leluhur lewat tradisi ini.
“Para pemuda harus dikenalkan dengan tradisi, terutama mengenal nenek moyang dan pepunden Desa Ngembal Kulon. Generasi muda harus tahu sejarahnya. Boleh memandang ke langit, tetapi jangan pernah melupakan leluhur,” ujar Minan.

Ia juga mengingatkan pembangunan desa tidak hanya soal budaya, tetapi juga menjaga keamanan lewat pos kamling dan kepedulian lingkungan seperti pengelolaan sampah dan antisipasi kebakaran.
“Mari bersama-sama membangun Desa Ngembal Kulon dengan menjaga keamanan melalui pos kamling. Kita juga harus peduli lingkungan dengan mengelola sampah dan memastikan aliran listrik dimatikan ketika tidak digunakan,” imbuh Minan.
Sementara Kepala Desa Ngembal Kulon M Khanafi menyampaikan apresiasi kepada warga yang berpartisipasi menyukseskan Saparan tahun ini. Berkat kebersamaan, karnaval dan seluruh rangkaian bisa berjalan baik.
“Kami Pemerintah Desa sangat berterima kasih dan mengapresiasi segenap warga atas partisipasinya. Berkat kebersamaan seluruh masyarakat, kita bisa melaksanakan karnaval dan seluruh rangkaian Saparan ke-5 dengan baik,” kata Khanafi.
Mengusung tema Merawat Budaya, Melestarikan Lingkungan, Khanafi berharap Saparan menjadi momentum meningkatkan kepedulian lingkungan, seperti menanam bunga di pekarangan dan tepi sungai serta tidak membuang sampah ke sungai.
“Mudah-mudahan setelah kegiatan ini masyarakat semakin peduli dengan lingkungan, misalnya menanam bunga di lingkungan masing-masing dan di tepi sungai. Jangan membuang sampah ke sungai agar lingkungan tetap bersih dan indah,” tutur Khanafi.

Ia menambahkan tradisi ini juga menjadi bentuk syukur atas nikmat dan keselamatan. Doa tolak balak dan tasyakuran telah digelar untuk keselamatan warga.
“Kita sudah melaksanakan tasyakuran dan doa tolak balak. Mudah-mudahan tahun depan masyarakat semakin makmur, semakin dimudahkan rezekinya, semakin mencintai alam, dan semakin sehat,” pungkas Khanafi. (*)









