KUDUS – Aroma gurih santan dan rempah seketika menyapa indera penciuman saat kepulan asap tipis keluar dari kuali tanah liat. Di wilayah Muria Raya, dua hidangan berkuah cokelat sering kali membuat para pelancong pemula merasa bingung untuk membedakannya.
Nasi Pindang Kudus dan Nasi Gandul Pati memang memiliki tampilan yang sekilas terlihat sangat mirip satu sama lain. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar pada bahan baku utama, jenis sayuran, hingga filosofi penyajian yang sangat unik dan berbeda.
Perbedaan paling mencolok terletak pada penggunaan jenis daging dan sayuran pendamping yang ada di dalam mangkuk saji Anda. Nasi Pindang khas Kudus secara tradisional menggunakan daging kerbau sebagai penghormatan terhadap toleransi beragama yang diajarkan Sunan Kudus.
Selain daging kerbau, Nasi Pindang wajib menyertakan daun melinjo atau daun so sebagai penyeimbang rasa gurih kuah santannya. Tekstur kuahnya cenderung lebih encer dengan aroma kluwek yang sangat khas namun tetap terasa ringan saat Anda santap.
Sebaliknya, Nasi Gandul asal Pati umumnya menggunakan daging sapi sebagai bahan utama dengan kuah yang jauh lebih kental. Hidangan ini tidak menggunakan daun so, melainkan fokus pada rasa rempah yang manis dan gurih yang sangat kuat.
Nama “Gandul” sendiri berasal dari cara penjual menjajakan dagangannya dengan memikul bambu sehingga kuali terlihat melayang atau gandul. Sementara itu, Nasi Pindang sering kali dianggap sebagai hidangan bangsawan yang kini bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.
Untuk pelengkap, Nasi Pindang biasanya disandingkan dengan tempe goreng garing dan berbagai macam jerohan kerbau yang sudah dibacem. Sedangkan Nasi Gandul sangat identik dengan tambahan tempe semangit serta telur pindang yang memiliki warna cokelat yang sangat pekat.
Akses mendapatkan kedua kuliner ini sangat mudah karena banyak tersedia di sepanjang jalan protokol baik di Kudus maupun Pati. Harga satu porsinya pun sangat ramah di kantong sehingga cocok bagi wisatawan yang ingin berburu kuliner secara mandiri.
Memahami perbedaan kedua hidangan ini akan membuat pengalaman wisata kuliner Anda di Jawa Tengah menjadi lebih kaya dan berkesan. Jangan sampai tertukar lagi saat memesan kelezatan autentik dari dua kota bertetangga yang sangat harmonis di lereng Muria ini. (*)








