KUDUS, Kaifanews – Di tengah menjamurnya angkringan modern, Angkringan Selaras di Jalan Kudus–Jepara, Desa Prambatan atau dikenal sebagai “wetan pom” karena berada di timur SPBU Prambatan—justru menghadirkan sesuatu yang berbeda dan mulai langka: wedang beras kencur.
Minuman tradisional ini menjadi daya tarik utama. Hangat, khas, dan penuh rasa, wedang beras kencur di sini seakan menghidupkan kembali kenangan lama yang kini jarang ditemui. Tak hanya itu, wedang uwuh juga menjadi pilihan yang memperkuat identitas angkringan ini sebagai penjaga rasa tradisional.
Owner Angkringan Selaras menyebut, konsep yang diusung memang ingin tampil beda.
“Kalau di tempat lain mungkin hanya jahe geprek, tapi di sini ada wedang beras kencur dan wedang uwuh. Itu yang bikin beda dan banyak yang datang ke sini,” ujarnya.

Yang membuat Angkringan Selaras semakin istimewa adalah komitmennya pada kualitas. Semua menu dibuat sendiri, bukan setoran dari luar. Mulai dari nasi, lauk, hingga gorengan, semuanya diolah langsung sehingga cita rasa lebih terjaga dan kualitasnya bisa dipastikan. Bahkan pelanggan bisa melihat langsung proses memasaknya—gorengan yang masih hangat, nasi yang baru dibungkus, semua serba fresh.
Menu andalannya adalah nasi kucing dengan dominasi rasa pedas. Ada nasi cumi pedas favorit, nasi ontong dengan sambal jantung pisang yang jarang ditemui, bledek kikil, hingga nasi dadar , orek pedo. Menariknya, hanya satu menu yang tidak pedas, yakni nasi kering.
Soal harga pun tak perlu khawatir. Nasi kucing dibanderol mulai Rp3 ribuan, gorengan Rp1 ribuan, dan sate-satean mulai Rp2 ribuan, terjangkau untuk semua kalangan.
Di sinilah kekuatan Angkringan Selaras, Bukan sekadar tempat makan, tapi ruang yang menjaga keaslian rasa di tengah perubahan zaman. Saat banyak yang memilih instan, di sini semuanya dimulai dari dapur sendiri, dari proses, dari rasa, dari niat.
Dan mungkin, justru dari kesederhanaan itulah, kepercayaan pelanggan tumbuh. Sekali mampir, bukan hanya kenyang yang dibawa pulang, tapi juga rasa hangat yang sulit dilupakan. (*)








