KUDUS, Kaifanews – Kampus asal kota Kretek, Universitas Muria Kudus (UMK) kembali menorehkan prestasi di bidang kewirausahaan mahasiswa. Tim Wiguna dari Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Ilmiah Mahasiswa (FIMA) berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026 pada kategori Industri Kreatif, Seni, dan Budaya.
Keberhasilan tersebut diumumkan melalui Surat Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 1790/DST/B2/DT.01.03/2026. Pendanaan ini menjadi peluang bagi Tim Wiguna untuk mengembangkan produk fashion multifungsi berbasis konsep keberlanjutan sekaligus memperkenalkan kekayaan batik pesisir Muria ke tingkat nasional.
Tim Wiguna diketuai oleh Nurul Dian Safitri dari Program Studi Pendidikan Matematika, dengan anggota Tamala Muwahida (Akuntansi), Devi Kharisma Maharani dan Akbar Krisna Bahrul Alam (Teknik Informatika). Tim tersebut mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing Savitri Wanabuliandari.
Ketua Tim Wiguna, Nurul Dian Safitri, mengatakan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari proses panjang pengembangan usaha yang telah dimulai sejak tahun sebelumnya.
“Pendanaan P2MW menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi. Kami ingin menghadirkan produk yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu mengangkat budaya lokal dan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gaya hidup berkelanjutan,” ujarnya pada Selasa 9 Juni 2026.

Perjalanan Wiguna dalam P2MW dimulai pada 2025 melalui skema tahap awal. Saat itu, tim mengembangkan produk Totevest 2 in 1, yakni totebag yang dapat diubah menjadi rompi multifungsi. Produk tersebut mendapat respons positif karena memadukan unsur kreativitas, fungsionalitas, dan kepedulian lingkungan.
Memasuki tahap bertumbuh pada 2026, Tim Wiguna menghadirkan inovasi baru berupa Topi 3 in 1, produk fashion yang dapat difungsikan sebagai topi, tas, dan obi belt. Inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan konsumen terhadap produk yang praktis, unik, dan ramah lingkungan.
Tidak berhenti di situ, tim juga menerapkan konsep minim limbah dengan memanfaatkan sisa bahan produksi menjadi berbagai aksesori seperti bag charm. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen mereka dalam mendukung praktik fashion berkelanjutan.
Keunikan produk Wiguna terletak pada penggunaan bahan denim yang dipadukan dengan motif batik pesisir Muria, meliputi batik khas Kudus, Pati, dan Jepara. Perpaduan unsur modern dan kearifan lokal tersebut menjadi identitas produk sekaligus upaya memperluas apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya daerah.
Dosen pembimbing Tim Wiguna, Savitri Wanabuliandari, menilai keberhasilan tersebut lahir dari konsistensi mahasiswa dalam mengembangkan ide usaha yang memiliki nilai inovasi dan dampak sosial.
“Mahasiswa mampu mengintegrasikan aspek bisnis, pelestarian budaya, dan kepedulian lingkungan dalam satu produk yang relevan dengan kebutuhan pasar. Hal ini menjadi kekuatan utama Tim Wiguna dalam kompetisi P2MW,” jelasnya.
Menurut Savitri, program ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan kewirausahaan sekaligus membangun keberanian dalam menghadirkan solusi kreatif berbasis potensi lokal.
P2MW sendiri merupakan program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia untuk mendorong lahirnya wirausaha muda dari kalangan mahasiswa. Melalui pendanaan dan pendampingan usaha, program ini bertujuan memperkuat ekosistem kewirausahaan kampus yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dengan lolosnya pendanaan P2MW 2026, Tim Wiguna berharap dapat memperluas jangkauan pemasaran produknya serta memperkenalkan batik pesisir Muria kepada masyarakat yang lebih luas. Inovasi yang mereka kembangkan diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan melalui kreativitas generasi muda. (*)








