KUDUS, Kaifanews — Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus memastikan ketersediaan air irigasi masih relatif aman menjelang musim kemarau 2026, sehingga pelaksanaan musim tanam kedua (MT II) diperkirakan tetap berjalan normal.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetiyo mengatakan kondisi sumber air, khususnya dari Waduk Kedungombo, saat ini masih cukup untuk mendukung kebutuhan pertanian.
“Kalau melihat kondisi sekarang, air masih aman karena suplai dari Kedungombo masih maksimal, sehingga musim kemarau ini tidak terlalu berpengaruh terhadap pertanian di Kudus,” ujarnya saat ditemui di kantor Dispertan Kudus pada Rabu 8 April 2026.
Ia menjelaskan, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa wilayah yang biasanya terdampak kekeringan saat kemarau kini masih memiliki cadangan air yang cukup.
“Kalau musim lalu khususnya di Undaan dan Kaliwungu saat kemarau airnya benar-benar habis. Tapi sekarang kondisinya masih cukup sehingga untuk MT II dipastikan masih aman,” katanya.
Selain memastikan ketersediaan air, pihaknya juga mengimbau petani agar tidak membakar jerami setelah panen karena memiliki manfaat penting bagi kelembapan tanah.
“Jerami jangan dibakar, sebaiknya dikembalikan ke lahan. Itu bisa membantu menyimpan air dan mengurangi penguapan sehingga tanah tetap lembap,” paparnya.
Menurutnya, kondisi sektor pertanian yang relatif stabil juga ikut menjaga ketahanan ekonomi daerah, mengingat sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama.
“Kalau pertanian aman, dampaknya terhadap ekonomi daerah juga ikut aman,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, capaian Luas Tambah Tanam (LTT) hingga Maret 2026 telah mencapai sekitar 95 persen dari target yang ditetapkan.
Selain itu, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat juga telah diterima untuk mendukung produktivitas petani.
Menghadapi musim kemarau tahun ini, pihaknya juga mengacu pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan musim kemarau datang lebih awal, yakni antara April hingga Juni 2026 dengan puncak pada Agustus 2026.
“Kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang dari biasanya sehingga perlu langkah antisipasi,” katanya.
Sebagai langkah mitigasi, Dinas Pertanian bersama pemerintah pusat juga memperkuat dukungan sarana irigasi, termasuk optimalisasi jaringan irigasi pertanian, bantuan benih dan pupuk, serta pemetaan wilayah rawan kekeringan.
Selain itu, petani juga didorong melakukan berbagai langkah adaptasi seperti efisiensi penggunaan air, pembuatan sumur dangkal dan pompa air, penyesuaian pola tanam, penggunaan pupuk organik, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.
“Kami juga mendorong petani mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai bentuk perlindungan jika terjadi gagal panen,” tandasnya. (*)








