KUDUS, Kaifanews – Di tengah menjamurnya kuliner modern dan makanan kekinian, Getuk Dalangan tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu jajanan tradisional favorit masyarakat. Gethuk Dalangan yang berada di kawasan Barongan, Kecamatan Kota Kudus, tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas dan autentik, tetapi juga memiliki perjalanan sejarah panjang sebagai usaha keluarga yang terus dilestarikan hingga tiga generasi.
Kuliner berbahan dasar singkong ini masih diminati berbagai kalangan. Getuk Dalangan dikenal memiliki cita rasa khas dengan tekstur lembut serta rasa manis yang pas. Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional sehingga keaslian rasa tetap terjaga dari masa ke masa.
Terdapat lima varian jajanan yang ditawarkan, yakni getuk, puli, ketan, mata belong, dan lupis. Seluruhnya dapat dibeli dalam satu bungkus dengan satu jenis isi maupun dicampur sesuai selera pembeli.
Usaha kuliner tersebut awalnya dirintis oleh generasi pertama keluarga puluhan tahun lalu. Berbekal resep turun-temurun, usaha getuk itu kemudian diteruskan hingga kini oleh generasi ketiga tanpa mengubah kualitas maupun ciri khasnya.
Setiap hari, getuk diproduksi menggunakan bahan pilihan agar rasa yang dihasilkan tetap konsisten. Singkong yang digunakan dipilih dengan kualitas baik sebelum diolah menjadi getuk dengan berbagai varian warna dan taburan kelapa parut.
“Sejak dulu resepnya tetap dipertahankan. Kami ingin rasa khas Getuk Dalangan ini tidak berubah meskipun sudah berganti generasi,” ujar Imah salah satu penerus usaha tersebut.
Getuk Dalangan telah lama menjadi favorit masyarakat sejak masa orang tuanya masih berjualan. Meski lokasi tempat usahanya berada di dalam gang, rumah yang digunakan untuk berjualan selalu ramai didatangi pembeli setiap harinya. Pelanggannya pun tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga datang dari berbagai daerah seperti Jepara, Demak, Semarang, Pati, hingga kota lainnya.
Tak hanya warga lokal, pembeli dari luar daerah juga kerap datang untuk menikmati jajanan tradisional itu. Banyak pelanggan mengaku sudah mengenal Getuk Dalangan sejak kecil dan hingga kini masih menjadikannya sebagai camilan favorit keluarga.
Selain mempertahankan rasa tradisional, pengelola juga mulai menyesuaikan pemasaran dengan perkembangan zaman. Promosi melalui media sosial hingga layanan pemesanan daring dilakukan agar produk tetap dikenal generasi muda.
Meski persaingan usaha kuliner semakin ketat, Getuk Dalangan tetap mampu bertahan karena dinilai memiliki cita rasa autentik yang sulit ditemukan pada jajanan modern. Keberadaan kuliner tradisional tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya lokal.
Dengan terus dijaga kualitas dan keasliannya, Getuk Dalangan diharapkan dapat terus eksis dan menjadi salah satu ikon kuliner tradisional yang membanggakan daerah. (*)







