KUDUS, Kaifanews — Trotoar di Jalan Pramuka, Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, berubah menjadi ruang ekspresi para seniman. Di tengah lalu lalang kendaraan dan pejalan kaki, kuas mulai menari di atas kanvas, sementara bait-bait puisi dilantunkan sebagai bentuk kegelisahan terhadap ruang publik yang dinilai semakin kehilangan fungsi utamanya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Aksi bertajuk “Bisik Bumi di Atas Trotoar” yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kudus itu memadukan live painting, pembacaan puisi, hingga musikalisasi puisi sebagai media penyampaian kritik sosial.

Sorotan utama mereka adalah maraknya fenomena coffee street yang dinilai membuat trotoar lebih banyak dimanfaatkan sebagai ruang usaha dibanding jalur aman bagi pejalan kaki.

Sebanyak tiga perupa mulai menuangkan gagasan mereka ke atas kanvas. Di saat yang sama, para penyair, pelajar, mahasiswa, pegiat teater, hingga komunitas seni bergantian membacakan puisi yang sarat kritik, harapan, hingga refleksi tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Kegiatan tersebut juga melibatkan Teater Gerak 11 dan sejumlah komunitas kreatif di Kudus. Pengunjung yang melintas tampak berhenti sejenak menyaksikan proses melukis maupun menikmati pembacaan puisi yang berlangsung di atas trotoar.

Ketua Lesbumi Kudus, Abud SB Runcing, mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni. Namun, menurutnya, isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan hutan, sungai, maupun pepohonan.

“Alam itu tidak hanya soal hutan atau sungai. Trotoar dan ruang publik juga bagian dari lingkungan hidup yang harus dijaga. Karena itu kami mengangkat tema ‘Bisik Bumi di Atas Trotoar’ sebagai ajakan untuk kembali membangun hubungan yang harmonis antara manusia, bumi, dan Sang Pencipta melalui bahasa seni,” ujarnya pada Selasa 30 Juli 2026.

Menurut Abud, saat ini sejumlah ruang publik di kawasan perkotaan mulai mengalami pergeseran fungsi. Trotoar yang semestinya menjadi hak pejalan kaki justru banyak dimanfaatkan sebagai area usaha maupun tempat berkumpul.

“Fenomena coffee street memang menjadi tren, tetapi jangan sampai menghilangkan fungsi utama trotoar. Kami berharap ruang publik tetap menjadi milik bersama, bukan hanya untuk aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang interaksi warga,” paparnya.

Bisik Bumi di Atas Trotoar, Cara Seniman Kudus Mengingatkan Kota agar Tak Kehilangan Ruang Publik
Sejumlah seniman menggelar live painting, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi di trotoar Jalan Pramuka, Kudus. (istimewa)

Ia menambahkan, seni dipilih sebagai medium penyampaian aspirasi karena mampu menyampaikan kritik tanpa harus menimbulkan konfrontasi.

“Melalui lukisan dan puisi, kami ingin mengajak masyarakat serta para pemangku kebijakan melihat kembali bagaimana wajah ruang publik di Kudus hari ini,” katanya.

Hasil live painting menampilkan tiga karya dengan karakter berbeda. Seniman Mondy menghadirkan lukisan abstrak yang menggambarkan bumi yang seolah terus berbisik namun kerap diabaikan manusia. Sementara Khoirul Anam menampilkan simbol hubungan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan melalui komposisi figur serta bentuk geometris.

Adapun Randy Gita menghadirkan ilustrasi Tugu Lingga Yoni sebagai simbol spiritualitas dan filosofi Manunggaling Kawula Gusti yang menggambarkan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Salah seorang peserta, Amanda Putri Cahyani, berharap kegiatan seni seperti ini dapat membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, termasuk menjaga keberadaan ruang publik.

“Di balik hiruk pikuk kota, alam selalu menyampaikan pesan. Ada bumi yang tidak pernah berteriak meski terluka. Semoga kita mau berhenti sejenak, mendengar, lalu mulai lebih peduli terhadap lingkungan yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan kita,” tandasnya. (*)