JEPARA, Kaifanews – Film Kartini garapan sutradara Hanung Bramantyo diputar dalam rangkaian pameran seni ukir TATAH di Museum Nasional Indonesia (MNI). Pemutaran film ini menjadi salah satu upaya mengenalkan kembali sosok serta pemikiran R.A. Kartini, sekaligus mempertegas kontribusi Jepara sebagai daerah yang memiliki warisan seni ukir berkelas dunia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar, Direktur Film, Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif Doni Setyawan, sutradara Hanung Bramantyo, serta keturunan R.A. Kartini, Joddy Mulyasetya Putra.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar menegaskan bahwa Kartini bukan hanya menjadi kebanggaan warga Jepara, melainkan juga tokoh penting bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, bagi masyarakat Jepara, Kartini tidak sekadar dikenang melalui nama jalan, gedung, atau tempat wisata, tetapi menjadi simbol semangat belajar, berpikir terbuka, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ia berharap pemutaran film tersebut mampu menginspirasi masyarakat, terutama generasi muda, agar meneladani keberanian dan nilai-nilai perjuangan Kartini dalam mendorong perubahan.

“Perubahan selalu diawali dengan keberanian untuk berpikir, bertanya, dan bertindak demi kemajuan bersama,” ujar Hajar.

Pada sesi diskusi film, Hanung Bramantyo menjelaskan bahwa Film Kartini tidak hanya mengangkat isu emansipasi perempuan, tetapi juga menggambarkan bagaimana gagasan tersebut diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya di bidang ekonomi.

Menurut Hanung, fokus tersebut dipilih karena dampak pemikiran Kartini terhadap pemberdayaan ekonomi masyarakat masih dapat dirasakan hingga kini.

Ia mengungkapkan, proses penulisan skenario dilakukan melalui kajian terhadap ratusan surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Dari berbagai surat tersebut, banyak pembahasan mengenai ekonomi, pemberdayaan masyarakat, hingga peran Kartini dalam mengangkat seni ukir Jepara yang kemudian berhasil menembus pameran internasional di Den Haag, Paris, dan Osaka.

Hanung juga menyampaikan bahwa film yang diputar merupakan versi Director’s Cut yang sebelumnya pernah ditayangkan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam konferensi mengenai perempuan.

Menurutnya, versi tersebut menampilkan lebih banyak sisi perjuangan Kartini, termasuk pemikirannya mengenai kesetaraan dan keberanian menyusun perjanjian pranikah yang dinilai sangat progresif pada zamannya.

Meski demikian, Hanung mengakui masih banyak gagasan Kartini yang belum sempat dimasukkan ke dalam film karena keterbatasan durasi. Ia berharap film tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mempelajari pemikiran Kartini secara lebih mendalam.

Selain itu, Hanung berharap Jepara terus memperkuat identitasnya sebagai Kota Kartini dengan menjaga dan mengembangkan warisan seni ukir, termasuk mendukung revitalisasi Pendopo Kabupaten Jepara menjadi Museum Kartini tanpa menghilangkan nilai historis bangunannya.

Pemutaran film berlangsung dengan antusias. Ruang teater Museum Nasional Indonesia dipenuhi penonton yang mengikuti film hingga usai. Suasana haru terasa ketika kisah perjuangan R.A. Kartini ditampilkan di layar, membuktikan bahwa nilai-nilai perjuangannya tetap relevan dan mampu menginspirasi masyarakat hingga saat ini.(*)