KUDUS, Kaifanews – Cuaca panas ekstrem tengah melanda Kudus dalam beberapa hari terakhir. Suhu udara yang terasa lebih terik dari biasanya membuat aktivitas masyarakat menjadi terganggu, terutama pada siang hari. Paparan sinar matahari yang menyengat bahkan dirasakan sejak pagi hingga menjelang sore, sehingga banyak warga memilih membatasi kegiatan di luar ruangan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gelombang panas ekstrem akibat fenomena Godzilla El Nino membuat suhu di sejumlah wilayah Indonesia terasa jauh lebih terik dari biasanya. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan jika tidak diantisipasi dengan tepat.

Para dokter menegaskan ada satu hal penting yang kerap diabaikan, padahal menjadi kunci utama bertahan di tengah cuaca panas. Menjaga kecukupan cairan tubuh menjadi langkah paling mendasar untuk melindungi diri dari dampak suhu tinggi.

Para ahli menekankan bahwa menjaga hidrasi adalah cara paling efektif untuk menghadapi panas ekstrem. Dokter spesialis kedokteran darurat dan olahraga, Mark Conroy, menjelaskan bahwa asupan cairan perlu dipenuhi bahkan sebelum rasa haus muncul.

Ia menegaskan pentingnya mulai menjaga hidrasi sejak awal, bukan menunggu sinyal dari tubuh. Hal serupa disampaikan Christopher Bryczkowski dari Rutgers Robert Wood Johnson Medical School yang mengingatkan bahwa rasa haus bisa menjadi tanda awal dehidrasi.

Selain air putih, tubuh juga memerlukan elektrolit, terutama saat kehilangan banyak cairan akibat keringat. Minuman yang mengandung elektrolit dinilai membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh. Sebaliknya, konsumsi minuman beralkohol dan berkafein sebaiknya dihindari karena dapat memperparah kondisi dehidrasi.

Kebutuhan cairan setiap orang memang berbeda, namun kondisi hidrasi dapat dikenali secara sederhana melalui warna urine. Menurut Cedric Dark, urine berwarna jernih atau terang menandakan tubuh terhidrasi dengan baik. Sebaliknya, warna kuning pekat menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak cairan.

Faktor lingkungan juga turut berperan dalam meningkatkan risiko paparan panas. Indeks panas, yakni gabungan antara suhu dan kelembapan, dapat membuat tubuh lebih sulit mendinginkan diri. Kelembapan tinggi menghambat proses penguapan keringat, sehingga meningkatkan risiko terkena heat stroke. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak mampu menurunkan suhu secara efektif.

Untuk mengurangi risiko, pemilihan pakaian juga menjadi hal penting. Riana Pryor dari University at Buffalo menyarankan penggunaan pakaian yang ringan dan longgar agar sirkulasi udara lebih baik dan membantu pelepasan panas tubuh. Selain itu, aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi, terutama pada jam puncak panas antara pukul 10.00 hingga 16.00.

Paparan panas dalam waktu lama dapat memicu berbagai gangguan kesehatan terkait panas. Tubuh akan bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil, yang pada akhirnya bisa berdampak pada kesehatan jantung dan organ lain.

Dalam kondisi berat, panas ekstrem bahkan dapat menyebabkan heat stroke, yakni ketika suhu inti tubuh meningkat drastis hingga berisiko memicu kerusakan organ dan gangguan pada otak. (*)