KUDUS, Kaifanews Siapa sangka, tempat duduk sederhana di lingkungan kampus kini bisa berubah menjadi sumber energi mandiri. Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) berhasil menghadirkan inovasi berupa kursi tunggu ramah lingkungan yang ditenagai sepenuhnya oleh energi matahari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Karya yang diberi nama PLTS Industrial Shelter ini bukan sekadar tempat berteduh. Di balik desainnya, tersimpan fungsi ganda sebagai ruang tunggu sekaligus titik pengisian daya listrik bagi mahasiswa. Dengan dukungan panel surya, energi matahari diubah menjadi listrik yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi daya ponsel hingga laptop.

Dosen pengampu mata kuliah Proses Manufaktur, Kukuh Mukti Wibowo, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan hasil kerja kolektif mahasiswa angkatan 2024.

“Shelter ini kami rancang agar bisa dimanfaatkan civitas academica, baik untuk menunggu, berdiskusi, maupun mengerjakan tugas. Kami lengkapi dengan meja dan fasilitas listrik dari tenaga surya,” ujarnya, Minggu 3 Mei 2026.

Secara fisik, shelter ini memiliki tinggi sekitar 2,5 meter dengan panjang 2,1 meter. Struktur utamanya menggunakan besi hollow, dipadukan dengan kayu, PVC board, serta atap spandek pasir. Meski terlihat sederhana, teknologi yang disematkan menjadikannya berbeda dari kursi tunggu pada umumnya.

Keunggulan utama terletak pada kemandirian energi. Shelter ini tidak bergantung pada pasokan listrik kampus maupun jaringan PLN, melainkan sepenuhnya mengandalkan energi terbarukan.

“Ini menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi ramah lingkungan di lingkungan kampus,” tegas Kukuh.

Di balik hasil tersebut, proses pengerjaan tidaklah instan. Ahmad Kafin Zuda Azka, salah satu mahasiswa yang terlibat, mengungkapkan bahwa proyek ini dikerjakan selama kurang lebih dua hingga tiga bulan bersama 21 mahasiswa lainnya.

Menurutnya, pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga, terutama karena sebagian mahasiswa baru pertama kali terlibat langsung dalam proses teknis seperti pengelasan dan penggunaan alat manufaktur.

“Teman-teman, baik laki-laki maupun perempuan, ikut terlibat langsung. Banyak yang baru pertama kali mencoba mengelas atau menggunakan alat, tapi akhirnya semua bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.

Lebih dari sekadar tugas kuliah, proyek ini juga membawa visi jangka panjang. Kafin dan tim berharap inovasi ini menjadi langkah awal menuju konsep kampus ramah lingkungan atau green campus di UMKU.

Apresiasi pun datang dari Ketua Program Studi S1 Teknik Industri, Nunung Agus Firmansyah. Ia menilai karya tersebut sebagai bentuk nyata penerapan teknologi tepat guna yang bisa langsung dirasakan manfaatnya.

“Kalau sebelumnya mahasiswa membuat gazebo dengan pendekatan ergonomis, sekarang sudah berkembang dengan tambahan teknologi panel surya. Ini langkah maju,” ungkapnya.

Ke depan, pihak kampus mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan inovasi yang tidak hanya berhenti di lingkungan akademik, tetapi juga bisa diterapkan secara luas di masyarakat.

“Harapannya, inovasi seperti ini bisa terus dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai guna lebih besar bagi masyarakat,” tandasnya. (*)