KUDUS – Hari Raya Waisak merupakan hari suci bagi seluruh umat Buddha di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Peringatan sakral ini ditujukan untuk mengenang tiga peristiwa penting dalam perjalanan hidup Buddha Gautama atau Tri Suci Waisak.
Ketiga fase krusial tersebut meliputi momen kelahiran Pangeran Siddharta, pencapaian pencerahan sempurna, hingga wafatnya Buddha Gautama. Seluruh peristiwa besar dalam tradisi umat Buddha tersebut diyakini terjadi tepat pada saat fase bulan purnama penuh.
Di Indonesia, puncak perayaan keagamaan ini secara konsisten selalu dipusatkan di kawasan situs warisan budaya Candi Borobudur. Berdasarkan rilis resmi, detik-detik Waisak tahun ini akan jatuh pada hari Minggu, 31 Mei 2026 mendatang.
Arti Lambang Fase Bulan Purnama
Penetapan waktu puncak perayaan Waisak yang selalu bertepatan dengan kemunculan bulan purnama memiliki filosofi mendalam bagi umat. Dalam ajaran Buddhisme, fenomena bulan purnama penuh dipandang sebagai simbol kesempurnaan pancaran terang, kebijaksanaan, dan kedamaian jiwa.
Fase bulan ini dipercaya menjadi saksi bisu perjalanan spiritual Pangeran Siddhartha hingga mencapai kesempurnaan menjadi seorang Buddha. Oleh sebab itu, seluruh ritual keagamaan utama seperti pembacaan paritta suci selalu dilakukan di bawah sinar rembulan.
Sejarah Perkembangan dan Pengakuan Internasional
Tradisi perayaan Waisak modern mengalami perkembangan yang sangat pesat di wilayah Sri Lanka pada abad ke-19 silam. Gerakan tersebut dipelopori oleh Henry Steel Olcott yang mengajukan petisi hari libur resmi kepada pemerintah kolonial setempat.
Pengakuan internasional secara masif baru berhasil diraih setelah terlaksananya Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia pada tahun 1950. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian menyusul dengan memberikan pengakuan resmi sebagai perayaan internasional pada tahun 1999.
Awal Mula Tradisi Waisak Modern di Indonesia
Sejarah perayaan Waisak modern di tanah air pertama kali diinisiasi oleh Himpunan Teosofi Hindia Belanda pada tahun 1929. Kegiatan religius di Candi Borobudur tersebut sempat terhenti lama akibat pecahnya perang revolusi kemerdekaan Indonesia.
Tradisi kirab dan meditasi suci ini baru dapat dihidupkan kembali secara konsisten oleh para tokoh agama pada 1953. Borobudur dipilih karena memiliki nilai historis dan spiritualitas yang sangat kuat bagi perkembangan peradaban Buddha di Nusantara.
Prosesi Pengambilan Api Dharma dan Air Berkah
Ritual krusial berupa pengambilan Api Dharma dijadwalkan berlangsung pada hari Jumat, 29 Mei 2026 di lokasi sakral. Keesokan harinya, Sabtu 30 Mei, panitia pusat akan melanjutkan prosesi sakral pengambilan Air Berkah untuk upacara.
Kedua unsur alam tersebut akan disemayamkan dan disucikan sebelum dibawa menuju altar utama di Candi Borobudur. Api melambangkan pancaran semangat yang berkobar, sedangkan air menjadi simbol kesejukan jiwa serta kesucian bagi umat manusia.
Puncak Detik-Detik Tri Suci Waisak
Berdasarkan data Ditjen Bimas Buddha, detik-detik Waisak 2026 akan terjadi tepat pada pukul 15.44.44 WIB hari Minggu. Umat akan melakukan meditasi sunyi secara massal untuk menghayati nilai welas asih dan pengendalian diri.
Acara penutupan biasanya dimeriahkan dengan tradisi pelepasan ribuan lampion ramah lingkungan ke langit malam sekitar candi. Prosesi pelepasan lampion tersebut melambangkan doa, harapan baik, serta simbol pelepasan sifat buruk dari dalam jiwa manusia. (*)








