KUDUS, Kaifanews — Di tengah kesibukannya mengelola usaha di sektor transportasi, Al Mishbah memilih tetap menyisihkan waktunya setiap hari untuk melayani masyarakat sebagai terapis sekaligus konsultasi yang dirintisnya sebagai bentuk pengabdian sosial.
Berbeda dengan banyak pelaku usaha yang hanya fokus mengembangkan bisnis, Mishbah justru membangun citra dirinya melalui keseimbangan antara profesionalisme sebagai pengusaha dan kepedulian terhadap sesama. Aktivitas terapinya dijalankan selepas menyelesaikan pekerjaan di dunia usaha, sehingga keduanya dapat berjalan beriringan.
Mishbah mengaku ketertarikannya pada dunia terapi sudah muncul sejak masih muda. Berbekal pengalaman di dunia bela diri, ia kemudian memperdalam berbagai teknik penyembuhan melalui pembelajaran mandiri hingga akhirnya membuka praktik secara rutin sejak 2010.
Melalui terapinya yang dibuka pada malam hari, ia menangani berbagai keluhan pasien menggunakan sejumlah pendekatan, mulai terapi totok, bioenergi, hipnoterapi hingga pendampingan pengembangan potensi diri. Menurutnya, setiap pasien memiliki kondisi berbeda sehingga penanganannya pun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
“Setiap pasien memiliki keluhan yang berbeda, sehingga metode terapinya juga tidak bisa disamakan,” ujarnya saat ditemui pada Selasa 30 Juni 2026.
Tidak sedikit pasien yang datang dari luar daerah untuk berkonsultasi maupun menjalani terapi. Selain menangani persoalan kesehatan, Al Mishbah juga mengembangkan layanan life coaching dan konsultasi bisnis yang ditujukan bagi individu maupun perusahaan dalam pengembangan sumber daya manusia.
Di balik aktivitas tersebut, Mishbah tetap aktif sebagai pengusaha yang bergerak di bidang transportasi di Kota Semarang. Pengalaman memimpin usaha dinilai memberinya sudut pandang berbeda dalam membangun komunikasi, membaca karakter seseorang, hingga memberikan motivasi kepada klien yang datang berkonsultasi.
Selain dikenal sebagai pengusaha dan terapis, Mishbah juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan, olahraga, serta lembaga pendidikan. Berbagai peran itu menjadi bagian dari personal branding yang dibangunnya sebagai figur yang mengedepankan kepemimpinan, pelayanan, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Bagi Mishbah, terapi bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian yang ingin terus dikembangkan. Ia bahkan memiliki cita-cita mendirikan pondok sosial terapi agar masyarakat kurang mampu dapat memperoleh layanan pendampingan secara gratis.
“Terapi yang saya lakukan merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Harapan saya, ke depan semakin banyak orang yang bisa terbantu,” tandasnya. (*)







