KUDUS, Kaifanews — Momentum bulan Syawal usai Hari Raya Idulfitri kembali dimanfaatkan banyak pasangan di Kabupaten Kudus untuk melangsungkan pernikahan. Dalam waktu sepekan setelah libur Lebaran, tercatat ratusan pasangan resmi mengikat janji suci melalui Kantor Urusan Agama (KUA).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 

Data Kementerian Agama (Kemenag) Kudus menunjukkan, sebanyak 123 pasangan melangsungkan akad nikah pada periode 17 hingga 24 Maret 2026. Pernikahan tersebut tersebar di sembilan kecamatan dan menjadi salah satu periode dengan angka pernikahan cukup tinggi.

 

Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kudus, Isfa’ Arifin, mengatakan fenomena ini merupakan hal yang hampir selalu terjadi setiap tahun saat memasuki bulan Syawal.

 

“Ada hari-hari tertentu yang memang padat jadwal pernikahan. Bahkan penghulu bisa menangani sampai 12 akad nikah dalam satu hari di lokasi yang berbeda,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat 3 April 2026.

 

Menurutnya, tingginya angka pernikahan pada bulan Syawal tidak terlepas dari kuatnya tradisi masyarakat yang masih mempercayai penentuan hari baik berdasarkan perhitungan budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.

 

“Sebagian masyarakat masih mempercayai hitungan hari dan bulan baik untuk menikah. Syawal termasuk yang dianggap membawa keberkahan sehingga banyak yang memilih waktu tersebut,” jelasnya.

 

Selain faktor tradisi, Isfa’ menyebut tren pernikahan di Kudus secara umum juga menunjukkan angka yang cukup stabil. Sepanjang Januari hingga Maret 2026 saja, sudah ada 1.047 pasangan yang menikah.

 

Rinciannya, sebanyak 509 pasangan menikah pada Januari, kemudian 273 pasangan pada Februari, dan 265 pasangan pada Maret.

 

Sementara sepanjang tahun 2025, jumlah pernikahan di Kudus tercatat mencapai 4.260 pasangan. Angka tersebut sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yang menurut Isfa’ salah satunya dipengaruhi kepercayaan sebagian masyarakat terhadap mitos tahun “dudo”.

 

“Memang ada sebagian masyarakat yang mempercayai tahun tertentu kurang baik untuk menikah sehingga menunda pernikahan,” katanya.

 

Beberapa kecamatan dengan angka pernikahan cukup tinggi antara lain Kaliwungu, Gebog, Dawe, Jekulo dan Jati. Selain itu, wilayah Bae, Undaan, Mejobo serta Kecamatan Kota juga menyumbang angka pernikahan yang cukup signifikan.

 

Ia juga menyebut, selain Syawal, ada beberapa bulan lain yang sering dipilih masyarakat untuk menikah, seperti Dzulhijjah, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Rajab dan Sya’ban.

 

Isfa’ juga mengingatkan generasi muda, khususnya Generasi Z, agar tidak ragu untuk menikah apabila sudah siap secara agama maupun administrasi negara.

 

“Kalau memang sudah siap, tidak perlu takut menikah. Nikah di KUA itu gratis, sedangkan kalau di luar kantor KUA biayanya Rp600 ribu sesuai aturan yang berlaku,” pesannya, “tandasnya. (*)