JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menunjukkan performa gemilang pada perdagangan Rabu (11/2) pagi dengan berhasil menembus zona penguatan di kisaran Rp16.700 per dollar AS.
Tren kenaikan ini menjadi sinyal positif kebangkitan mata uang Garuda yang dipicu oleh derasnya aliran modal asing masuk ke pasar domestik serta melemahnya indeks dollar AS di pasar global.
Berdasarkan data perdagangan pasar Bloomberg pada Rabu pagi, rupiah dibuka menguat tajam dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Mata uang Garuda tercatat bergerak sangat atraktif seiring dengan meningkatnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kokoh di tengah gejolak eksternal.
Bank Indonesia (BI) dinilai sukses menjalankan strategi intervensi yang tepat untuk menjaga volatilitas nilai tukar tetap terjaga di koridor yang sehat. Kebijakan suku bunga dan pengelolaan likuiditas yang disiplin menjadi jangkar utama yang mencegah rupiah terperosok lebih dalam dari tekanan global.
Sentimen positif juga datang dari rilis data inflasi dalam negeri yang masih terkendali, sehingga memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil. Investor melihat Indonesia sebagai pasar tujuan investasi yang menjanjikan dibandingkan negara berkembang lainnya di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi lain, indeks dollar AS sedang mengalami tekanan setelah rilis data tenaga kerja di Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh mata uang regional, termasuk rupiah, untuk melakukan “rebound” dari tekanan yang terjadi pada pekan-pekan sebelumnya.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah menguat terhadap dollar AS, seiring tekanan yang masih membayangi mata uang Negeri Paman Sam.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dollar AS yang masih tertekan setelah data penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan, walau mendapat dukungan dari pernyataan hawkish pejabat-pejabat The Fed semalam,” ujar Lukman
Penguatan rupiah ke level Rp16.700 ini juga diharapkan mampu meredam kekhawatiran sektor industri yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Harga barang-barang konsumsi berbasis impor diprediksi akan lebih stabil jika tren penguatan ini bisa bertahan dalam jangka menengah.








