KUDUS, Kaifanews — Senja perlahan turun di kawasan Masjid Menara Kudus, denting bedug mulai menggema menandai pesan penting bagi masyarakat bahwa bulan suci Ramadan segera tiba. Tradisi tabuh bedug Dandangan kembali digelar sebagai ritual tahunan yang terus dijaga masyarakat Kabupaten Kudus sebagai penanda datangnya bulan puasa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Panitia pelaksana, Akhmad Arinal Haq, menjelaskan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari sejarah panjang dakwah Islam di Kudus yang diwariskan para ulama terdahulu.

“Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa Sunan Kudus, ketika bunyi bedug ‘dhang-dhang’ menjadi tanda masyarakat mulai bersiap menjalankan puasa,” ujarnya pada Rabu (18/2/2026).

Prosesi tabuh bedug biasanya diawali ziarah bersama, dilanjutkan penjelasan ulama terkait penetapan awal Ramadan. Setelah itu, bedug ditabuh secara bergantian oleh delapan personel sambil melantunkan selawat sehingga suasana terasa khidmat dan sarat makna spiritual.

Menurut Arinal, durasi tabuhan memang tidak panjang, namun maknanya sangat mendalam bagi masyarakat.

“Tidak perlu lama, yang penting bedug berbunyi karena itulah simbol datangnya Ramadan,” katanya.

Antusiasme masyarakat setiap tahun dinilai terus meningkat. Warga dari berbagai daerah berdatangan untuk menyaksikan prosesi tersebut, meski lokasi utama tidak sepenuhnya dibuka untuk umum. Panitia pun menyediakan siaran langsung agar masyarakat tetap bisa mengikuti jalannya ritual.

Selain tabuh bedug, tradisi Dandangan juga identik dengan bancaan atau makan bersama menu khas. Momentum tahunan itu menjadi ajang silaturahmi sekaligus pengingat nilai kebersamaan menjelang bulan puasa.

Data panitia mencatat, sejak Februari hingga pelaksanaan Dandangan tahun ini jumlah peziarah yang terpantau melalui sistem CCTV people counting mencapai sekitar 194 ribu orang. Mayoritas berasal dari berbagai wilayah Pulau Jawa, meski sebagian juga datang dari luar pulau.

“Jumlah itu kemungkinan masih bertambah karena tidak semua area terjangkau kamera,” paparnya.

Aktivitas peziarah pun beragam, mulai dari membaca tahlil, doa bersama, hingga mengkhatamkan Al-Qur’an. Bagi masyarakat lokal, ziarah biasanya diisi pembacaan Yasin dan doa bersama, sementara pengunjung luar daerah menjalankan tradisi sesuai kebiasaan masing-masing.

Seiring waktu, Dandangan tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi ruang budaya sekaligus ekonomi. Kawasan sekitar masjid ramai pedagang yang membuka lapak, menjadikannya pasar rakyat musiman menjelang Ramadan.

Meski suasana semakin meriah setiap tahun, masyarakat tetap menempatkan bunyi bedug sebagai inti tradisi yang sarat pesan spiritual.

“Bedug ini bukan sekadar bunyi, tapi pengingat kebersamaan, kesederhanaan, dan kekhidmatan dalam menyambut Ramadan,” tandasnya.