GROBOGAN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan fenomena padamnya Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, tidak bersifat permanen. Sumber gas di lokasi tersebut dinilai masih menyimpan cadangan besar dan berpotensi kembali menyala setelah dilakukan penanganan teknis khusus.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gangguan pada api yang menjadi ikon wisata dan sejarah itu mulai terpantau sejak akhir Desember 2025. Nyala api yang biasanya stabil tampak melemah, hingga akhirnya tak lagi menyala normal. Saat dilakukan pemeriksaan awal, petugas justru menemukan air keluar dari lubang api, bukan gas sebagaimana mestinya.

Pada malam pergantian tahun, 31 Desember 2025, api masih terlihat menyala meski sangat kecil. Namun sehari setelahnya, tepat 1 Januari 2026, api tersebut benar-benar mati dan tidak bisa dinyalakan kembali meskipun telah dipancing dengan korek api.

Petugas penjaga Api Abadi Mrapen, Anas Rofiqi, mengungkapkan bahwa sejak hari itu tidak ada lagi respons api. Bahkan ketika dicoba kembali, hanya terdengar bunyi dari dalam lubang, disertai aroma menyengat menyerupai bau belerang.

“Sudah tidak bisa dipicu. Ada suara dari dalam, tapi apinya tidak muncul. Lubangnya juga penuh air,” ujarnya.

Upaya penyulutan sempat kembali dilakukan. Api memang sempat muncul, namun nyalanya sangat kecil dan hanya bertahan sekitar dua jam sebelum padam kembali.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Dwi Suryono, menegaskan bahwa secara ilmiah cadangan gas Api Abadi Mrapen masih aman dan tidak mengalami penurunan signifikan.

Menurutnya, penyebab utama padamnya api bukan karena gas habis, melainkan tersumbatnya jalur keluarnya gas oleh lumpur. Kondisi tersebut membuat gas tidak bisa naik ke permukaan.

“Gasnya masih ada dan jumlahnya besar. Permasalahannya sekarang jalur alirannya tertutup lumpur, sehingga perlu penanganan khusus agar gas bisa keluar kembali,” jelas Dwi.

Pemprov Jateng melalui Dinas ESDM telah menyiapkan langkah perbaikan berupa proses pembersihan atau flashing pada sumber gas. Lumpur yang menyumbat akan diangkat agar aliran gas kembali lancar dan api bisa menyala normal.

Ia menambahkan, kondisi ini kemungkinan memiliki keterkaitan dengan aktivitas pengeboran sumur di sekitar kawasan Mrapen pada tahun 2021 lalu. Meski demikian, fokus utama saat ini adalah membuka kembali jalur gas yang tertutup.

Dengan penanganan tersebut, Pemprov Jateng menargetkan Api Abadi Mrapen dapat kembali menyala stabil dalam waktu sekitar satu pekan ke depan.