KUDUS, Kaifanews — Setelah menghilang hampir satu dekade, grup musik keras asal Kudus, Tears Don’t Fall (TDF), kembali menyalakan mesin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Band yang lahir dari pertemanan anak SMA dan SMK pada 2011 ini siap menghadirkan gebrakan baru di tahun ini dengan materi yang lebih matang dan karakter musik yang semakin kuat.

TDF dikenal sebagai band post-hardcore dengan sentuhan elektronik di masa awal. Namun perjalanan mereka sempat terhenti cukup lama, sebelum akhirnya bangkit lagi dengan semangat baru.

Vokalis TDF, Ival yang akrab disapa Ikapal, mengenang awal mula band tersebut terbentuk dari kegelisahan anak muda sekolah di Kota Kretek.

“Dulu kita bikin band cuma modal nekat dan semangat. Tahun 2011 rilis single pertama ‘Fuck Off’, lalu lanjut ‘Blasphemy Heretic’ di 2012 dan ‘Sightless’ tahun 2014,” kata Ival saat ditemui pada Minggu (1/2/2026) malam.

Setelah itu, nama TDF perlahan menghilang dari peredaran. Aktivitas masing-masing personel, hingga kehidupan berkeluarga, membuat band ini vakum hampir 10 tahun. Hingga akhirnya, awal 2022 menjadi titik balik kebangkitan mereka.

Formasi terbaru TDF kini diisi oleh Ival (vokal), Rizal (bass), Rian (drum), Reza Kelly (gitar), dan Dendi Oyot (gitar). Meski beberapa personel kini menetap di luar kota, hal itu tak menghalangi mereka untuk kembali berkarya.

“Awalnya cuma nongkrong biasa, nostalgia lah. Tapi dari situ muncul lagi keinginan buat main bareng. Walaupun sekarang sudah berkeluarga, pasangan support penuh, jadi kita gas lagi,” ungkap Ival.

Sebagai penanda kembalinya TDF, mereka merilis single terbaru berjudul “Return” pada 31 Juli 2025. Lagu ini menjadi simbol kebangkitan setelah tidur panjang.

“‘Return’ itu representasi semangat baru kami. Sekarang TDF mengarah ke metal modern dengan nuansa corn metal. Elektronik yang dulu jadi ciri, sekarang kita lepas. Aransemen lebih padat dan lebih berkarakter,” jelasnya.

Tak berhenti di satu single, TDF memastikan akan ada kejutan lain dalam waktu dekat pada tahun ini dengan menggandeng beberapa rekan musisi lokal di Kudus.

“Tahun ini insyaallah bakal ada gebrakan baru lewat rilis EP serta kolaborasi bersama teman-teman. Soal tanggal dan detailnya belum bisa kita spill dulu,” ujar Ival.

Mini album (EP) yang tengah disiapkan diproyeksikan berisi empat hingga lima lagu, dengan konsep yang benar-benar mencerminkan arah baru TDF.

“Kami ingin EP ini jadi penanda fase baru. Bukan nostalgia, tapi bukti kalau TDF masih relevan dan terus berkembang,” katanya.

Dengan energi yang lebih dewasa dan dukungan komunitas musik keras di Kudus, Tears Don’t Fall bertekad kembali menegaskan eksistensinya di skena musik keras nasional.

“Harapan kami simpel, TDF bisa diterima lagi di skena musik keras Indonesia dan karya kami didengar lebih luas. Kami mau buktiin, semangat itu nggak pernah mati,” pungkas Ival.

Sebagai informasi, sebelum vakum, Tears Don’t Fall sempat tampil di berbagai panggung musik di Jawa Tengah dan terlibat dalam album kompilasi bersama band-band ternama. Kini, mereka tak sekadar mengulang masa lalu dan ingin mengembangkan sayapnya untuk dapat terus berkarya pada industri musik tanah air.