KUDUS, Kaifanews – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Direktorat Kemitraan Riset dan Inovasi menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi Tahun 2026 dengan tema “Publikasi Ilmiah di Jurnal Internasional Skala Menengah dan Tinggi” di Hotel Griptha Kudus pada Jumat 31 Juli 2026.
Acara ini menjadi momentum penting pertemuan antara akademisi lokal Kudus dengan pemerintah pusat dan lembaga riset nasional. Hadir sebagai pemateri Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.
Perwakilan BRIN, Anugerah Yuka Asmara, mengatakan forum audiensi ini sangat berarti bagi akademisi daerah untuk menyampaikan langsung persoalan publikasi ilmiah ke wakil rakyat.
“Ini merupakan momentum yang penting, bagaimana para akademisi bisa bertemu langsung dengan pemerintah nasional. Kontribusi kami untuk memberikan diseminasi dan sosialisasi terkait dengan penulisan publikasi ilmiah di global yang pasti dibutuhkan teman-teman akademisi di lingkungan lokal,” ujarnya.

Menurut Anugerah, kendala utama akademisi di daerah untuk tembus jurnal internasional masih berkutat pada biaya publikasi.
“Kendala itu bisa macam-macam ya, baik kendala penelitian dari nasional maupun di daerah. Salah satunya APC yang masih menjadi tantangan bagi Bapak-Ibu peneliti maupun akademisi. Karena APC atau Article Processing Charge itu ada yang memang dikenakan di jurnal,” jelasnya.
Ia menyebut, tidak semua jurnal mengenakan APC, namun ketika ada, akademisi membutuhkan dukungan biaya dari instansi maupun lembaga lain. Ia juga mendorong agar output riset tidak hanya dimaknai sebagai publikasi ber-APC, tapi juga bisa non-publikasi.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya BRIN untuk terus menjangkau para peneliti di daerah. Sebab publikasi internasional saat ini menjadi sebuah keharusan dan syarat kelengkapan administratif.
Namun ia mengingatkan agar publikasi tidak sekadar asal terbit.
“Yang harus betul-betul kita capai adalah bagaimana jurnal tersebut bisa diterbitkan istilahnya publish and be evaluated dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Lestari.

Ia juga menyoroti adanya ketimpangan struktural dalam ekosistem publikasi global.
“Kita harus mengakui bahwa ada sebuah ekosistem yang tertentu yang secara jujur ekosistem ini bukanlah ekosistem yang netral. Ada ketimpangan struktural yang nyata antara negara maju dan negara berkembang,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, BRIN berharap ada kebijakan afirmatif dari DPR-MPR RI untuk mendukung keberlanjutan riset dan publikasi akademisi lokal agar suara Indonesia lebih didengar di kancah global.(*)








