KUDUS, Kaifanews — Festival Film Anak Bangsa (FFAB) 2026 resmi menutup rangkaian kegiatannya melalui malam penganugerahan di Balai Budaya Rejosari Kudus, Sabtu, 20 Juni 2026. Namun lebih dari sekadar pengumuman pemenang, ajang ini juga menjadi ruang refleksi bagi para sineas muda untuk melihat kembali sumber inspirasi terdekat dalam proses berkarya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dewan juri FFAB 2026 menilai perkembangan kualitas film peserta menunjukkan tren yang menggembirakan. Beragam karya yang masuk memperlihatkan keberanian sineas muda dalam mengeksplorasi bentuk penceritaan maupun pendekatan visual yang semakin matang.

Sutradara sekaligus dewan juri FFAB 2026, Wahyu Agung Prasetyo mengatakan, tantangan terbesar yang masih dihadapi banyak pembuat film muda bukan terletak pada kemampuan teknis, melainkan menemukan gagasan yang benar-benar dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Menurutnya, tidak sedikit film pelajar yang mencoba mengangkat isu-isu besar yang sebenarnya jauh dari pengalaman personal pembuatnya. Padahal, cerita sederhana yang hadir dalam keseharian justru sering menyimpan kekuatan emosional dan relevansi yang lebih besar.

“Tantangan terbesar justru bagaimana menemukan ide yang dekat dengan diri sendiri. Beberapa kali saya mengurasi film-film pelajar, saya melihat banyak karya yang berangkat dari isu yang terlalu jauh dari pengalaman mereka. Padahal banyak cerita sederhana di sekitar kita yang justru memiliki kekuatan dan relevansi yang besar untuk diangkat menjadi film,” ujarnya.

Pesan tersebut selaras dengan tema FFAB tahun ini, yakni “Scene The Unseen”. Tema tersebut mendorong para sineas untuk lebih peka terhadap berbagai peristiwa kecil yang sering terlewat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Wahyu, film yang kuat tidak selalu lahir dari kejadian besar atau spektakuler. Sebaliknya, kekuatan sebuah karya sering muncul dari cara pembuat film memandang realitas secara jujur dan menyampaikannya melalui sudut pandang yang personal.

Ia juga mengingatkan para peserta agar tidak menjadikan hasil kompetisi sebagai tujuan akhir. Ia berharap para sineas muda terus mengembangkan kemampuan dan menghadirkan karya-karya baru di masa mendatang.

“Teruslah berkarya. Jadikan pengalaman hari ini sebagai bekal untuk membuat karya-karya berikutnya. Saya berharap bisa melihat perkembangan teman-teman di festival selanjutnya,” ujarnya.

Sementara itu, komposer musik film sekaligus dewan juri Cornel Innos menilai festival memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar kompetisi. Menurutnya, festival merupakan ruang pertemuan yang memungkinkan para pelaku kreatif saling bertukar gagasan, belajar, dan membangun kolaborasi.

“Festival bukan hanya tentang mencari pemenang. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang seperti FFAB mampu mempertemukan para sineas untuk saling belajar, berdiskusi, dan membangun kolaborasi yang melahirkan karya-karya baru,” jelasnya.

FFAB 2026 mencatat partisipasi 92 film dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 film terpilih mengikuti rangkaian festival dan 15 karya berhasil masuk nominasi penghargaan.

Selain kompetisi, festival juga menghadirkan pemutaran dan diskusi film di enam titik yang tersebar di Kudus, Jepara, dan Pati. Seluruh film hasil kurasi juga dapat diakses secara gratis melalui platform Sinea.id sebagai upaya memperluas jangkauan apresiasi terhadap karya sineas muda Indonesia.

“Semoga Festival Film Anak Bangsa terus tumbuh menjadi festival yang semakin besar, semakin dikenal, dan mampu membuka lebih banyak ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru dari berbagai daerah di Indonesia,” tandas Wahyu. (*)