KUDUS, KaifanewsKenaikan harga bahan baku plastik yang mencapai hingga 90 persen dalam beberapa minggu terakhir mulai dirasakan dampaknya oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kudus. Lonjakan ini dinilai memberatkan, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada kemasan plastik untuk operasional sehari-hari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Salah satu pelaku UMKM di Kudus, Nurhana (38), mengaku biaya produksi usahanya meningkat signifikan akibat naiknya harga plastik. Ia yang menjalankan usaha makanan ringan terpaksa mengurangi margin keuntungan agar harga jual produknya tetap terjangkau oleh konsumen.

“Biasanya beli plastik kemasan masih terjangkau, sekarang naiknya hampir dua kali lipat. Mau tidak mau kami harus menyiasati supaya usaha tetap jalan,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami pelaku UMKM lainnya. Banyak di antara mereka mengeluhkan kenaikan harga yang terjadi secara bertahap namun konsisten, sehingga semakin menekan biaya produksi. Beberapa pelaku usaha bahkan mulai mempertimbangkan alternatif kemasan yang lebih murah, meski kualitasnya belum tentu setara.

Pedagang Plastik Toko Mulya Mandiri, Donny menyebut kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku impor serta fluktuasi nilai tukar. Selain itu, permintaan yang tinggi juga ikut mendorong harga di pasaran.

Ia memperkirakan kondisi tersebut terjadi akibat terbatasnya pasokan bahan baku yang hingga kini masih sangat bergantung pada impor. Biji plastik serta minyak sebagai komponen utama disebut berkontribusi sekitar 60 hingga 80 persen dalam proses produksi.

Di sisi lain, dinamika global juga ikut berpengaruh. Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah berdampak pada distribusi minyak dunia. Meskipun jalur Selat Hormuz belum sepenuhnya ditutup bagi negara yang tidak terlibat konflik, situasi tersebut tetap mengganggu rantai pasok bahan baku plastik dan memicu kenaikan harga.

Donny  menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada sektor makanan, tetapi juga usaha lain seperti minuman kemasan, kerajinan, hingga produk rumahan. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu meringankan beban pelaku usaha kecil.

“Kalau kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan banyak UMKM yang kesulitan bertahan. Perlu ada solusi, baik subsidi bahan baku atau pelatihan alternatif kemasan ramah lingkungan,” katanya.

Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan keberlangsungan UMKM. Di tengah tekanan ekonomi, pelaku usaha kecil menjadi sektor yang paling rentan terdampak.

Meski demikian, para pelaku UMKM di Kudus tetap berupaya bertahan dengan berbagai cara, mulai dari efisiensi produksi hingga inovasi produk. Mereka berharap situasi segera membaik agar usaha yang dijalankan tetap bisa berkembang di tengah tantangan yang ada. (*)