Kaifanews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan signifikan pada pengujung April hingga awal Mei 2026. Mata uang Garuda kini terpantau telah menembus level Rp17.300-an per dolar AS dan diprediksi masih akan mengalami tekanan hebat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpotensi menuju posisi Rp17.500 per dolar AS dalam sepekan ke depan. Faktor eksternal berupa memanasnya konflik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan suku bunga The Fed menjadi pemicu utama fluktuasi ini.

Di sisi internal, kenaikan harga minyak dunia yang drastis mulai mengancam ketahanan fiskal dan beban subsidi energi dalam APBN 2026. Bank Indonesia terus melakukan intervensi di berbagai lini pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak bergerak liar.

Sentimen global menjadi beban berat bagi rupiah seiring persiapan Amerika Serikat melakukan blokade angkatan laut terhadap Iran. Langkah politik Donald Trump ini memicu kekhawatiran besar akan terganggunya pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz secara berkepanjangan.

Gangguan pada jalur pelayaran vital tersebut diperkirakan berdampak pada 20 persen pasokan minyak mentah global yang saat ini sedang melambat. Ketegangan militer antara AS-Israel melawan Iran membuat perundingan nuklir gagal total dan memicu ketidakpastian pasar keuangan di negara berkembang.

Selain konflik fisik, arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau The Federal Reserve juga membayang-bayangi pergerakan mata uang dunia. Jerome Powell baru-baru ini menyatakan bahwa independensi Fed sedang berada dalam risiko besar akibat tekanan politik di Washington.

Kondisi perpolitikan AS yang memanas menjelang pergantian kepemimpinan di The Fed membuat aliran modal asing cenderung kembali ke negara maju. Hal ini menyebabkan rupiah mengalami koreksi yang sangat dalam jika dibandingkan posisi awal tahun yang masih di level Rp16.680.

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang menyentuh 122 dolar AS per barel menjadi ancaman nyata bagi fiskal Indonesia. Harga tersebut jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang hanya mematok harga minyak pada level 70 dolar AS per barel.

Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS akan menambah beban subsidi energi hingga Rp13 triliun. Tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak mentah semakin menguras cadangan devisa dan menekan neraca transaksi berjalan nasional.

Tekanan terhadap rupiah semakin diperparah oleh kebijakan MSCI yang memicu potensi keluarnya dana asing hingga Rp15 triliun dari pasar saham. Bank Indonesia merespons kondisi ini dengan melakukan intervensi di pasar spot maupun melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder tetap dilakukan secara terukur guna menjaga daya tarik investasi aset rupiah. Stabilisasi nilai tukar menjadi prioritas utama agar pelemahan rupiah tidak terjadi secara tidak teratur dan memicu inflasi impor. (*)