KUDUS – Hari Paskah merupakan salah satu perayaan besar yang diperingati oleh umat Yahudi dan Kristen di seluruh dunia. Meskipun memiliki nama yang serupa, kedua tradisi ini memiliki latar belakang sejarah serta makna teologis yang berbeda.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bagi umat Yahudi, Paskah atau “Pesah” merupakan peringatan atas pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di tanah Mesir. Sementara bagi umat Kristen, Paskah dirayakan sebagai momen kebangkitan Yesus Kristus yang menjadi inti dari keimanan mereka.

Istilah Paskah sendiri berakar dari bahasa Ibrani “Pesah” yang berarti melewati, melindungi, serta menyelamatkan dari mara bahaya. Perbedaan mencolok juga terlihat pada penentuan waktu perayaan yang mengikuti kalender keagamaan masing-masing kepercayaan tersebut.

Sejarah Paskah dalam Tradisi Yahudi

Dalam tradisi Yahudi, Paskah memperingati peristiwa keluarnya Bani Israil dari Mesir di bawah kepemimpinan Nabi Musa. Sejarah mencatat bahwa perayaan pertama dilakukan pada bulan purnama pertama setelah musim semi tiba di bumi.

Tanda darah pada pintu rumah menjadi simbol pelindung bagi bangsa Israel dari malaikat maut saat itu. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 14 Nisan dalam kalender Yahudi sebagai bentuk syukur atas pertolongan Tuhan.

Makna Paskah dalam Tradisi Kristen

Umat Kristen memaknai Paskah sebagai hari kemenangan Yesus Kristus atas kematian setelah melalui proses penyaliban di Bukit Golgota. Peristiwa kebangkitan pada hari Minggu ini diyakini sebagai jaminan hidup kekal dan pembebasan manusia dari dosa.

Paskah Kristen ditentukan jatuh pada hari Minggu setelah bulan purnama pertama yang terjadi setelah tanggal 21 Maret. Momen ini juga menjadi titik ukur perayaan penting lainnya seperti Kamis Suci dan Jumat Agung.

Perbedaan Signifikan dalam Penentuan Waktu

Paskah Yahudi berlangsung selama sekitar delapan hari dan fokus pada sejarah fisik pembebasan umat dari perbudakan Mesir. Sedangkan Paskah Kristen lebih menekankan pada aspek spiritual dan kemenangan iman atas maut melalui kebangkitan Kristus.

Perbedaan kalender antara Masehi dan Ibrani membuat waktu perayaan kedua agama ini tidak selalu jatuh secara bersamaan. Namun, keduanya tetap memiliki kesamaan dalam menggunakan siklus bulan purnama sebagai acuan penentuan hari suci tersebut.

Tradisi makan roti tanpa ragi masih sering dijumpai dalam peringatan Paskah Yahudi untuk mengenang masa pelarian dahulu. Di sisi lain, umat Kristen merayakan Paskah dengan penuh sukacita melalui ibadah syukur di berbagai gereja.

Setiap simbol dalam perayaan, seperti telur atau roti, memiliki filosofi mendalam yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Pemahaman sejarah yang tepat dapat menghindarkan masyarakat dari kebingungan mengenai istilah Paskah yang sering muncul.

Semoga informasi ini memberikan wawasan baru mengenai kekayaan tradisi agama yang ada di tengah-tengah kehidupan kita. Selamat merayakan hari suci bagi Anda yang menjalankan dengan penuh kedamaian serta rasa syukur yang mendalam.