KUDUS, Kaifanews — Perayaan Idulfitri di Kabupaten Kudus tak hanya identik dengan tradisi silaturahmi dan kuliner khas Lebaran, tetapi juga memunculkan tren baru di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah fenomena penyewaan iPhone yang dimanfaatkan untuk dokumentasi momen Lebaran hingga pembuatan konten media sosial.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

 

Meski sebagian masyarakat Muhammadiyah di Kudus telah lebih dulu merayakan Idulfitri, sementara mayoritas umat Islam lainnya masih menunggu penetapan pemerintah yang mungkin ditetapkan pada Sabtu, (21/3/2026), aktivitas penyewaan iPhone justru mulai meningkat menjelang Hari Raya. Banyak anak muda memanfaatkan jasa ini untuk mengabadikan momen kebersamaan dengan kualitas foto yang lebih baik.

 

Pemilik gerai sewa iPhone di wilayah Getaspejaten, Kecamatan Jati, Kudus, Nadia Okta (22), mengatakan tren ini bukan lagi hal yang tabu di kalangan anak muda. Menurutnya, menyewa perangkat bukan soal gengsi, melainkan soal kebutuhan.

 

“Kalau sekarang bukan soal gaya atau pamer, tapi lebih ke kebutuhan dokumentasi. Banyak yang ingin hasil fotonya bagus saat momen spesial seperti bukber dan Lebaran,” ujarnya pada Jumat (20/3/2026).

 

Ia menjelaskan, permintaan biasanya mulai terasa sejak pertengahan Ramadan dan akan meningkat mendekati Lebaran, terutama ketika agenda silaturahmi dan kumpul keluarga semakin padat.

 

“Kalau Ramadan memang tidak seramai saat event besar, tapi tetap ada. Biasanya dipakai untuk bukber atau foto-foto, rata-rata tiga sampai empat jam,” katanya.

 

Tarif penyewaan yang ditawarkan juga relatif terjangkau sehingga bisa diakses oleh pelajar maupun mahasiswa. Untuk iPhone XR misalnya, tarif sewa mulai sekitar Rp5.000 per jam. Sementara iPhone 11 sekitar Rp9.000 per jam, iPhone 12 sekitar Rp10.000 per jam, dan iPhone 13 sekitar Rp12.000 per jam.

 

Selain paket per jam, tersedia pula paket enam jam, harian hingga mingguan. Paket beberapa jam menjadi pilihan favorit karena dianggap cukup untuk kebutuhan dokumentasi acara kebersamaan.

 

“Biasanya mereka datang sore, dipakai foto saat bukber atau kumpul, lalu malam dikembalikan. Jadi paket beberapa jam memang paling diminati,” jelasnya.

 

Untuk menjaga keamanan perangkat, setiap penyewa wajib meninggalkan identitas sebagai jaminan. Pelajar cukup menunjukkan kartu pelajar atau Kartu Identitas Anak (KIA) disertai fotokopi kartu keluarga, sedangkan penyewa dewasa diminta menunjukkan KTP atau SIM.

 

Nadia menceritakan usaha yang dirintisnya sudah berjalan lebih dari dua tahun. Awalnya ia hanya memiliki tiga unit iPhone, namun kini berkembang menjadi sekitar 50 unit dengan berbagai seri karena permintaan yang terus bertambah.

 

“Awalnya cuma coba-coba. Dulu sempat jual beli ponsel tapi kurang berkembang. Akhirnya coba sewa iPhone dan ternyata responsnya bagus,” paparnya.

 

Mayoritas penyewa berasal dari kalangan usia 16 hingga 25 tahun. Mereka biasanya menggunakan iPhone untuk membuat konten media sosial, vlog Lebaran, hingga sekadar mengabadikan kebersamaan dengan teman dan keluarga.

 

Salah satu penyewa asal Pati, Altof, mengaku baru pertama kali mencoba menyewa iPhone. Ia memilih iPhone 13 untuk digunakan selama tiga hari demi mendapatkan hasil dokumentasi yang lebih maksimal saat momen kebersamaan.

 

“Baru pertama kali mencoba sewa iPhone. Saya pakai untuk dokumentasi karena kameranya lebih jernih dan lebih praktis dibawa,” ujarnya.

 

Fenomena ini pun dinilai sebagai bagian dari perubahan gaya hidup digital, di mana akses terhadap teknologi kini tidak harus selalu dengan memiliki, tetapi bisa juga dengan menyewa sesuai kebutuhan.

 

Dengan semakin berkembangnya tren tersebut, penyewaan iPhone pun kini mulai dipandang sebagai solusi praktis dan wajar, bukan lagi sesuatu yang memalukan, selama dimanfaatkan secara bijak sesuai kebutuhan.

 

“Menyewa itu hal biasa. Yang penting digunakan untuk hal positif, bukan sekadar gengsi,” tandasnya. (*)