KUDUS, Kaifanews – Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini. Bicara Kartini, banyak yang belum tahu bahwa api emansipasinya pertama kali dinyalakan oleh sang kakak: Drs. Raden Mas Panji Sosrokartono. Tanpa Sosrokartono, mungkin Indonesia tidak mengenal R.A. Kartini seperti sekarang.
Sosrokartono ialah Kakak yang Jadi Inspirasi Kartini, lahir 10 April 1877, putra keempat R.M. Ario Sosrodiningrat. Kartini sering berkirim surat dengan kakaknya saat Sosrokartono kuliah di Belanda. Dari surat-surat itu, Kartini belajar tentang dunia luar, pentingnya pendidikan, dan keberanian berpikir bebas. Tak heran jika Sosrokartono disebut sebagai salah satu sumber inspirasi Kartini dalam memperjuangkan pendidikan perempuan.
Sang Kakak juga seorang Wartawan Perang, Penerjemah, Dokter, dan Guru. Julukan “Si Jenius dari Timur” bukan tanpa alasan. Sosrokartono menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa daerah.
Ia wartawan perang untuk New York Herald Tribune dengan sandi “Bintang Tiga” yang membocorkan isi perundingan rahasia Perang Dunia I di hutan Compaigne, Prancis. Bung Hatta dalam Memoir menulis Sosrokartono digaji USD 1250 dan diberi pangkat Mayor oleh Panglima Perang AS untuk memudahkan geraknya.
Ia juga dokter lulusan Eropa, guru, dan ahli kebatinan. Setelah pulang ke Indonesia, ia memilih jalan sunyi: mengobati orang tanpa memungut bayaran, mengajar, dan menulis pitutur Jawa.
“Sugih Tanpa Bandha” yang Terukir di Makam Kudus
Sosrokartono wafat 8 Februari 1952 dan dimakamkan di komplek Taman Makam Pahlawan Kaliputu, Kudus. Di nisannya terukir empat baris pitutur yang jadi pegangan hidupnya:
“Sugih tanpa bandha.
Digdaya tanpa hadji.
Ngalurug tanpa bala.
Menang tanpa ngasoraken.”
Artinya: Kaya tanpa harta. Sakti tanpa azimat. Menyerang tanpa balatentara. Menang tanpa merendahkan
Maksudnya, kekayaan sejati itu kaya hati dan mental, bukan tumpukan benda. Sakti bukan karena jimat, tapi karena tekad, ilmu pasrah, dan yakin pada keadilan Tuhan. Menang bukan dengan menjatuhkan orang lain.

Kartini berjuang agar perempuan “sugih” ilmu dan berani bersuara. Kakaknya, Sosrokartono, memberi teladan bahwa ilmu dan laku harus jalan beriringan. Kaya boleh tanpa harta, tapi jangan miskin keberanian. Digdaya boleh tanpa jimat, asal punya tekad dan pasrah yang benar.
Jadi, merayakan Kartini juga berarti mengingat Sosrokartono: bahwa di balik perempuan hebat, ada kakak yang membuka cakrawala, dan di balik kecerdasan, ada laku Jawa yang menuntun: menang tanpa ngasoraken.
Selamat Menjelang Peringatan Hari Kartini, 21 April. Mari kaya hati, kaya ilmu, kaya empati. (*)






