KUDUS, Kaifanews — Kawasan wisata religi Makam Sunan Muria tidak hanya dikenal sebagai tujuan ziarah, tetapi juga identik dengan buah khas bernama parijoto. Buah kecil berwarna ungu kemerahan ini hampir selalu menjadi oleh-oleh wajib bagi para peziarah yang datang ke lereng Gunung Muria.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Seiring waktu, parijoto tidak hanya dipandang sebagai simbol tradisi, tetapi juga mulai dikenal luas karena berbagai manfaat kesehatan yang dikandungnya.

Parijoto merupakan tanaman liar yang tumbuh alami di kawasan pegunungan Muria. Bentuknya menyerupai anggur kecil dengan rasa unik perpaduan manis, asam, dan sedikit sepat.

Salah satu penjual parijoto di kawasan Colo, Kabupaten Kudus, Ibu Partini, mengatakan buah ini selalu dicari peziarah, terutama pasangan suami istri yang sedang menantikan keturunan.

“Banyak peziarah membeli parijoto karena dipercaya membawa keberkahan, terutama bagi ibu hamil agar bayinya sehat dan cantik,” ujarnya saat ditemui di jalur wisata Sunan Muria.

Parijoto buah khas Gunung Muria. Foto: Ihza Fajar/Kaifanews

Menurutnya, penjualan parijoto meningkat drastis pada akhir pekan, musim libur, hingga momentum Ramadan dan Syawal.

“Kalau ramai ziarah, sehari bisa habis puluhan kilogram. Banyak juga yang beli untuk oleh-oleh keluarga,” katanya.

Secara ilmiah, parijoto diketahui mengandung antioksidan alami seperti flavonoid dan antosianin yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan tersebut dipercaya membantu menjaga daya tahan tubuh, menangkal radikal bebas, hingga mendukung kesehatan kulit.

Beberapa masyarakat juga memanfaatkan parijoto sebagai herbal tradisional untuk menjaga stamina, membantu metabolisme tubuh, serta dipercaya baik dikonsumsi oleh ibu hamil dalam jumlah wajar.

Meski begitu, para pedagang biasanya tetap mengingatkan agar konsumsi dilakukan secukupnya.

“Kami selalu menyarankan dimakan sewajarnya saja, karena ini buah alami,” jelasnya.

Menyesuaikan perkembangan wisata dan kebutuhan konsumen, kini tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar. Produk olahan seperti sirup parijoto mulai banyak dipasarkan di kawasan wisata Muria.

Sirup parijoto dibuat dari ekstrak buah yang diolah menjadi minuman manis segar tanpa menghilangkan cita rasa khasnya.

“Sekarang banyak wisatawan yang memilih sirup karena lebih praktis dibawa pulang dan tahan lama,” ucap Partini.

Cara konsumsi sirup pun cukup mudah. Minuman ini biasanya disajikan dengan mencampurkan dua hingga tiga sendok sirup ke dalam air dingin atau hangat sesuai selera. Beberapa pembeli bahkan mengolahnya menjadi campuran es buah maupun minuman herbal keluarga.

“Kalau diminum dingin segar sekali, tapi kalau hangat juga enak buat badan,” paparnya.

Selain nilai kesehatan, juga memiliki makna budaya yang kuat bagi masyarakat sekitar Muria. Buah ini dianggap sebagai bagian dari tradisi ziarah dan simbol keberkahan dari warisan dakwah Sunan Muria.

Keberadaannya menjadi bukti bagaimana kearifan lokal mampu bertahan di tengah modernisasi. Dari buah liar pegunungan hingga produk olahan bernilai ekonomi, parijoto kini menjadi identitas wisata religi Kudus yang terus hidup.

“Bagi para peziarah, membawa pulang parijoto bukan sekadar membeli buah, tetapi juga membawa cerita tradisi, harapan, dan nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun di lereng Gunung Muria,” tandasnya.