JAKARTA – Nilai buyback emas PT Aneka Tambang Tbk. kembali melemah tajam pada awal pekan. Senin (2/2/2026), harga pembelian kembali emas Antam merosot Rp 21.000 dan kini berada di level Rp 2.633.000 per gram.
Penurunan ini memperpanjang tren koreksi yang sudah terjadi sejak penghujung Januari 2026. Posisi buyback saat ini semakin menjauh dari rekor tertinggi sepanjang masa yang sempat menyentuh Rp 2.989.000 per gram pada 29 Januari lalu.
Harga buyback sendiri merupakan patokan yang digunakan Antam untuk membeli kembali emas dari konsumen, baik dalam bentuk batangan maupun logam mulia. Angka ini umumnya lebih rendah dibandingkan harga jual, sehingga menjadi perhatian utama bagi investor yang berencana melepas kepemilikan emasnya.
Akhir pekan lalu, tekanan terhadap harga buyback bahkan tercatat cukup dalam, dengan penurunan kumulatif mencapai Rp285.000. Meski begitu, transaksi buyback masih berpotensi memberi keuntungan bagi pemilik emas, khususnya jika selisih antara harga beli dan harga jual sebelumnya cukup lebar.
Perlu diperhatikan pula aspek perpajakan. Mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan dengan nilai di atas Rp10 juta dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Tarifnya sebesar 1,5 persen bagi pemegang NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP. Pajak ini dipotong langsung dari nilai transaksi buyback.
Pergerakan harga buyback emas Antam sejalan dengan dinamika harga emas dunia. Berdasarkan data Investing, Senin pagi (2/2/2026) pukul 08.36 WIB, harga emas di pasar spot tercatat turun 3,06 persen ke level US$4.716,48 per ons. Bahkan pada awal perdagangan, penurunan sempat melampaui 4 persen.
Pengamat Pasar Independen sekaligus mantan trader logam mulia JPMorgan Chase & Co, Robert Gottlieb, menilai koreksi harga emas global belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Menurutnya, pelaku pasar masih menunggu di mana harga akan menemukan titik penopang terdekat.
“Pergerakan ini belum selesai. Pasar masih mencari level support yang kuat,” ujar Gottlieb, dikutip dari Bloomberg.
Sebelumnya, anjloknya harga emas dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Sentimen tersebut menguat setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump bersiap mengajukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve untuk menggantikan Jerome Powell. Warsh dikenal sebagai figur yang keras terhadap inflasi, sehingga memicu ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan menopang penguatan dolar.
Kondisi itu berdampak langsung pada harga emas, yang diperdagangkan dalam dolar AS. Kepala Strategi Emas dan Logam Mulia Global State Street Investment Management, Aakash Doshi, menyebut pasar memandang kabar tersebut sebagai sentimen negatif bagi emas.
“Isyarat bahwa Warsh menjadi pilihan Ketua The Fed berikutnya mendorong dolar menguat dan menekan harga logam mulia,” ujarnya.
Dengan tekanan global yang masih kuat, pelaku pasar dan investor emas kini cenderung bersikap wait and see, menanti arah pergerakan selanjutnya di tengah dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat.








