KUDUS, Kaifanews — Kasus perundungan terhadap anak disabilitas masih menjadi persoalan serius di lingkungan pendidikan. Hal itu terungkap dalam kegiatan sosialisasi yang digelar Dinas Sosial P3AP2KB dan Polres Kabupaten Kudus di salah satu sekolah.
Seorang siswa tunanetra secara terbuka mengungkap pernah menjadi korban bullying, baik secara fisik maupun tindakan tidak pantas dari lingkungan sekitarnya.
“Dia menyampaikan pernah didorong, dipukul, bahkan mengalami perlakuan yang tidak semestinya. Ini menjadi perhatian kami,” ujar Pengelola Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinsos Kudus, Lulus Wijanarko pada Kamis 7 Mei 2026.
Menurutnya, anak disabilitas memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap perundungan, terutama karena keterbatasan fisik maupun kondisi tertentu.
“Anak-anak disabilitas ini beragam, ada yang tidak bisa melihat, ada yang keterbatasan fisik, ada juga yang mental. Mereka semua butuh pendampingan khusus,” paparnya.
Ia menjelaskan, khusus bagi siswa disabilitas, kondisi fisik tidak memengaruhi kemampuan berpikir dan perasaan mereka.
“Kalau yang tunanetra itu secara fisik memang tidak melihat, tapi secara kejiwaan normal. Jadi mereka merasakan hal yang sama ketika menjadi korban,” jelasnya.
Lulus menilai, penting bagi lingkungan sekolah dan keluarga untuk lebih peka terhadap kondisi anak disabilitas agar tidak menjadi sasaran perundungan.
“Pendampingan harus terus dilakukan, baik oleh guru maupun lingkungan sekitar, agar mereka merasa aman dan terlindungi,” tandasnya. (*)








